GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 16)

August 2, 2008 at 2:38 am | In family | 6 Comments
Tags: , , ,

lisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Autis Savant

Adalah bentuk autisme klasik (infantil) Kanner dengan defisit inteligensia yang sangat luas dan parah atau idiot, karena itu sering pula disebut idiot-savant. Diperkirakan autis Savant ini berjumlah 10 persen dari populasi autisme klasik yang mental retarded. Berbagai catatan epidemiologi, prevalensi autisme klasik ini adalah 4 dari 10.000 anak yang lahir. Sekitar 70 persennya mengalami mental retarded. Sekalipun autisme savant ini mengalami gangguan perkembangan verbal yang sangat parah, namun beberapa bagian dari kemampuan performalnya sangat baik. Dalam tes menggunakan Wechsler Intelligence Scale menunjukkan bahwa para autis savant ini dalam tes inteligensia performalnya mempunyai skor yang istimewa pada tes Block Design dan Object Assembly. Diantaranya juga ada yang mempunyai visual memory yang istimewa (Cox & Eames, 1999)

Oliver Sack (1995) menggambarkan seorang savant sebagai individu yang paradox, yaitu memiliki gangguan inteligensia yang parah namun juga memiliki talenta yang luar biasa. Individu savant ini ada yang mempunyai talenta melukis, musik, atau mnemonist (bermain perkalian berdigit digit tanpa kalkulator sebagaimana halnya figur autis savant dalam film Rain Man yang dimainkan oleh Dustin Hoffman).

Gambar di bawah ini  menggambarkan Wechsler profil savant (BX) yang menunjukkan tinggi dalam subtes Block Design (visual abstrack ability) dan Digit Span ( short term auditory memory for non- meaningful information) namun mengalami defisit dalam berbagai subtest lainnya.

Catatan

Verbal: Information - fund of general knowledge

Similarities - verbal abstract reasoning

Arithmatic - numerical reasoning, attention and short-term memory for

meaningful information

Vocabulary - knowledge of word meanings

Comprehension - social comrehension and judgment

Digit Span - short term auditory memory for non- meaningful information

Performal:

Picture Completion - attention to visual detail

Coding – visual – motor skill, processing speed

Picture arrangement – attention to visual detail, seqientila reasoning

Block Design – visual abstract ability

Object Assemby – part – whole reasoning

Mazes – graphomotor planning, visual – motor coordination and speed

BX adalah seorang savant yang lahir tanpa komplikasi, walau begitu ia mempunyai perkembangan bicara yang buruk, yang menyebabkan orang tuanya prihatin. Mendapat diagnosa autism saat berusia 4 tahun. Diagnosa berdasarkan klasifikasi kriteria WHO (1978). Ia mengalami epilepsy, konsentrasi buruk, serta gangguan motorik kasar berupa

clumsy dan gangguan kordinasi. Kemampuan menggambarnya tiba-tiba muncul diusianya yang ke 15 tahun 6 bulan tanpa melakukan latihan praktek. Ia menggambar dari apa yang ada di memorinya tentang jembatan kereta api dan jalan raya yang sangat perspektif. Tes tadi di atas saat ia berusia 19 tahun 6 bulan.

Berbeda dengan Nadia autis savant yang mempunyai talenta, kemampuan menggambarnya muncul di usia 3 tahun saat mana ia belum mampu berbicara, namun saat ia sudah mampu berbicara kemampuan menggambar ini menghilang. Cara autis savant mengekspresikan kemampuan memori fotografisnya adalah dengan cara melakukan registrasi apa

yang dilhatnya dengan mata dengan cara sangat detil yang oleh Vermulen (2004) disebutnya sebagai visual realism. Selanjutnya Vermuelen (2004) menjelaskan bahwa hal yang membedakan antara para autis yang mempunyai memori fotografis dengan anak-anak non-autis yang juga mempunyai kemampuan fotografis adalah pada anak-anak autis savant ini apa yang digambarkannya merupakan hasil registrasi yang dilihatnya tanpa memberinya makna maupun kreasi lainnya. Gambarnya akan lompat langsung pada stadium lanjut berupa gambar tiga dimensi, tanpa adanya

tambahan kreasi dan fantasi. Seperti misalnya gambar yang dibuat Nadia. Vermeulen memberi perumpamaan bahwa jika seorang anak autis menggambar sebuah bangku, ia tidak tahu lagi apakah itu bangku taman atau bangku malas untuk di taman. Pada anak-anak non-autis yang mempunyai memori fotografis, gambar-gambar yang dibuatnya bukan saja sangat detil dan persfekstif, namun juga akan kaya dengan fantasi. Anak autis akan melihat dunia bagai suatu benda-benda berjajar runtut bagai garis, bukan merupakan pengertian yang mempunyai makna tertentu, namun merupakan pengertian yang realistis yang kemudian dicurahkannya dalam bentuk gambar. Pemahaman Nadia bukan merupakan pemahaman konseptual tetapi pemahaman yang perseptual. Hal ini merupakan kekosongan dalam kemampuan pemahaman yang kemudian menyebabkan Nadia mampu mencatat apa yang dilihatnya secara eksak. Nadia tidak “melihat” kuda-kud

a yang selalu digambarnya. Talenta menggambar anak-anak autis ini tidak “tertular” oleh penggunaan “pengenalan dan penamaan” sebagaimana yang dilakukan oleh anak-anak normal. Misalnya seorang anak non-autistik ditanya untuk menggambar seekor kuda ia akan “berfikir”seekor kuda (dengan kata lain disebut skema kognitif, atau prototype dari seekor kuda yang keluar dari memorinya) lalu ia akan menggambar apa yang ia fikirkan. Sedang Nadia segera mengingat kembali apa yang pernah ia lihat dan ia akan gambarkan.

Sekalipun sulit melakukan tes terhadap Nadia, namun bisa nampak dengan cara melakukan pengamatan terhadap berbagai benda yang dilihatnya dan disajikannya dalam bentuk gambar, yang menunjukkan sesuatu bukan berdasarkan pemahaman makna tentang apa yang dilihatnya.

Akan berbeda pula dengan gambar anak-anak non-memori fotografis, gambar yang dibuatnya tidak merupakan langsung berupa gambar tiga dimensi, namun dimensinya secara perlahan berkembang satu persatu dimulai dari gambar-gambar sederhana.

Continue…

GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 15)

July 30, 2008 at 2:35 am | In family | Leave a Comment
Tags: , , ,

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

AUTISME ATAU GIFTED ?

Peter Vermuelen, yang banyak menulis buku dan artikel serta melakukan penelitian tentang autisme terutama autisme high function dan Asperger, dalam karya-karyanya itu ia selalu mengkritik berbagai kesalahan diagnosa yang diberikan pada anak-anak autisme. Ia menggambarkan diantara anak-anak bimbingannya itu banyak yang mendapatkan berbagai diagnosa yang berganti-ganti dari berbagai diagnotician yang berbeda. Hal ini disebabkan karena para diagnotician melihat seorang anak hanya dari sisi ilmu yang menjadi spesialisasinya saja. Sehingga tidak heran jika seorang anak autisme bisa terdeteksi sebagai anak gifted, atau anak bergangguan perilaku, atau mental. Terlebih anak autisme yang mempunyai IQ tinggi, yaitu anak-anak Asperger, dimana kecerdasannya itu dapat digunakannya untuk menutupi kekurangannya. Anak-anak Asperger ini umumnya saat kecilnya disangka anak-anak gifted atau anak cerdas. Namun lambat laun saat memasuki sekolah dasar, kesulitan mulai terasa, yaitu sulitnya membangun relasi yang baik dengan teman sebaya, kesulitan dalam fantasi, imajinasi, dan kreativitas, serta mempunyai bidang minatan yang sangat terbatas. Umumnya mereka terdiagnosa sebagai autisme Asperger sangat terlambat, karena mereka mempunyai perkembangan bahasa dan bicara yang justru sangat baik. Karena itu Vermuelen menyebut individu ini sebagai: “Als autisme niet op autisme lijk” atau “Jika autisme tidak seperti autisme” (Vermuelen, 1999).

Sebaliknya pengalaman yang banyak terjadi pada anak-anak anggota kami di Indonesia adalah justru anak-anak ini anak terlambat bicara, saat ia masih balita selalu menerima diagnosa autisme ringan, autisme agak berat, atau ASD, dan saat ia sudah bersekolah, mempunyai prestasi di sekolah, atau terlihat pandai walau tidak berprestasi, dokter akan mengatakan: sekarang sudah menjadi Asperger.

Diantara anak-anak ini saat usia sangat dini, dua atau tiga tahun, sudah bisa menulis, membaca, dan menggambar, karena ia terlambat bicara dan sudah terlihat pandai, maka ia langsung menerima diagnosa asperger.

Dalam suatu diskusi dengan para orang tua di Surabaya Juli 2003, seorang ibu menceritakan tentang anaknya, bahwa anaknya telah duduk di kelas lima sekolah dasar, usia 10 tahun, berprestasi di semua mata ajaran. Terlambat bicara, dan saat ini sikapnya di sekolah menarik diri tetapi dirasa tidak mempunyai masalah perilaku. Sejak usia 2 tahun mendapatkan diagnosa Aspeger. Saat duduk di kelas 5 itu, karena perilakunya menarik diri dengan diagnosa Asperger, atas anjuran fihak profesional dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan darah, rambut, dan urine, serta upaya detoksifikasi.

Pengalaman yang dilalui oleh kelompok kami adalah anak-anaknya sangat menyukai televisi dan mobil beserta rodanya yang dapat diputar yang baginya sangat menawan hati. Karena anak-anak ini awalnya mendapat diagnosa ASD, maka kedua kegiatan ini jelas harus disingkirkan, dengan alasan merupakan kegiatan yang terfiksasi sebagai ciri autisme. Banyak dari para orang tua menyembunyikan berbagai mainan yang dapat diputar-putar termasuk mobilan beroda. Berkebalikan dengan strategi stimulasi anak berbakat, kesenangan seperti ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kreativitas dan fantasi. Televisi, video, komputer dengan CD ROM interaktif dapat digunakan untuk memberinya pelajaran , serta meningkatkan kreativitas dengan membuat disain kota yang bisa diliwati dengan mobil. Anak-anak ini senang sekali melakukan uji coba, melakukan kegiatan berulang-ulang sebagai upaya trial and error, namun sering terinterpretasi sebagai perilaku repetitif autisme dan harus disingkirkan.

Kraijer (2003) dalam penelitiannya memberikan kesimpulan bahwa semakin rendah inteligensia penyandang autisme, menunjukkan perilaku yang lebih repetitif, dan perilaku repetitif ini berlangsung secara terus menerus, tanpa tujuan, serta disandang seumur hidup.

Laporan dari Young dkk (2003) bahwa sebetulnya pada autisme klasik, gejala autisme sudah dapat diketahui sejak usia 7 bulan, namun para orang tua baru menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan perkembangan autisme saat berusia agak lebih besar yaitu menyadari anaknya mengalami perkembangan bahasa yang terlambat.

Banyak diantara anggota kami menyadari bahwa anak-anaknya mengalami kemunduran bicara. Saat usia satu tahun anaknya telah mampu mengucapkan beberapa kata, namun setelah di atas usia dua tahun dirasa tidak ada kemajuan, bahkan muncullah bahasa planet dan sulit dimengerti. Keadaan inilah yang sering melibatkan anaknya pada diagnosa autisme, dengan asumsi adanya regresi perkembangan yang biasa terjadi pada anak-anak autisme.

Mönks dalam bukunya Ontwikkelings Psychologie (1999), menjelaskan bahwa pada anak-anak diusia 18 bulan seorang anak akan mulai melakukan eksplorasi dan observasi (pencanderaan melalui mata).

Pada anak-anak visual learner ini terjadi intensitas pencanderaan yang tinggi (skala besar), dan terjadi gangguan pada processing informasi melalui telinga. Gangguan fungsi terjadi pada bagian sistem syaraf pusat yaitu dibagian Premotor Area (PMA).

Defisit dalam kreativitas menyebabkan individu autis mengalami gangguan dalam fleksibilitas, karena kreativitas akan pula menghasilkan kemampuan fleksibilitas, kemampuan analisis, dan berbahasa simbolik. Sifatnya kemudian hanya meregistrasi (dalam memori visual atau auditif) apa yang didengar, atau dilihatnya. Kemampuan autisme seperti ini sering kita baca sebagai kemampuan yang peace by peace dalam melihat berbagai fenomena di dunia. Defisit dalam kemampuan simbolik (komunikasi nonverbal) akan membawanya kesulitan dalam hubungan sosial, membaca gelagat, deficit dalam imajinasi dan terfiksasi dalam bidang minatan. Ia akan melihat dunia dengan caranya, yaitu sangat harafiah (Vermuelen, 1999, 2002, 2004).

Diagnosa yang sering tertukar satu dengan lainnya, adalah antara autis savant, asperger, dan gifted.

Continue…

GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 14)

July 27, 2008 at 2:32 am | In family | Leave a Comment
Tags: , , ,

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Baum (1990) membagi anak-anak gifted/LD ini menjadi tiga kelompok, yaitu:

1) anak-anak yang teridentifikasi sebagai anak gifted tetapi juga mempunyai LD

2) anak-anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak gifted karena tertutupi oleh prestasinya yang sedang-sedang saja

3) anak yang teridentifikasi sebagai anak dengan LD tetapi juga sebagai anak gifted

Selanjutnya Baum (1990) menjelaskan beberapa ciri anak-anak gifted/LD:

1) Kelompok gifted yang mempunyai LD.

Kelompok ini mudah dikenali karena mempunyai prestasi yang baik dan skor IQ total yang tinggi. Saat kelompok ini menanjak besar deskrepansi antara performa yang diharapkan dan yang aktual akan semakin melebar. Anak-anak ini dapat mempesona gurunya karena mempunyai kemampuan verbal yang sangat baik, sedang ejaan dan karya tulisnya berkebalikan dengan image-nya. Kadang ia sangat pelupa, jorok, dan tidak terorganisasi. Di sekolah lanjutan dimana lebih banyak dituntut pengerjaan tugas-tugas dengan menulis yang panjang, penggunaan bahasa yang lebih luas, membaca mandiri, mereka segera akan mendapatkan kesulitan. Kesuksesan akan dicapai dengan kerja yang sangat keras. Jika dibutuhkan usaha yang lebih keras, ia akan tidak tahu lagi bagaimana harus mengerjakan hal hal yang mudah

2) Unidentified student

Anak-anak ini sering tidak naik kelas. Kemampuan intelektualnya hanya hilang begitu saja karena ia harus mengkompensasi kelemahannya, karena masalah gangguan belajarnya tidak teridentifikasi. Dengan kata lain, gangguan belajarnya menutupi kemampuannya, sedang kemampuannya untuk menutupi kelemahannya. Anak-anak ini justru sulit diidentifikasi karena perilakunya baik, tidak menuntut perhatian guru.

3) Teridentifikasi sebagai anak LD tetapi memiliki giftedness

Anak-anak ini teridentifikasi karena ia tidak mampu mengerjakan tugas, bukan karena ia mampu menunjukkan talentanya. Kelompok ini merupakan anak yang mempunyai risiko salah terinterpretasi, karena guru dan orang tua lebih terfokus pada permasalahannya. Yang menarik, anak-anak ini mempunyai tingkat pretasi yang tinggi di rumah, kemampuan intelektual dan kreativitasnya disalurkannya ke hobbynya. Karena anak-anak ini sangat cerdas dan sensitive, maka mereka semakin sadar akan kesulitannya dalam belajar. Selanjutnya, mereka sering menggeneralisasi kegagalan akademiknya kepada seluruh aspek. Perasaan pesimisnya ditutupinya denga perasaan positif yang didapatkannya di rumah. Di sekolah sering dianggap sebagai pengacau, tidak menyelesaikan tugas, ‘ngeloyor’, pelamun, atau mengeluh sakit kepala dan sakit perut; mereka juga mudah frustrasi dan menggunakan kreativitasnya untuk menghindari tugas.

continue….

GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 13)

July 24, 2008 at 2:29 am | In family | Leave a Comment
Tags: , ,

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

GIFTED WITH LEARNING DISABILITIES (Gifted/LD)

Istilah Learning Disabilities (gangguan belajar) hanya diberikan pada anak-anak yang mempunyai inteligensia normal sampai tinggi, untuk anak-anak dengan inteligensia rendah disebut multihandicap (Crealock & Kronick, 1993). Istilah ini digunakan bagi anak-anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau berhitung (diskalkulia). Namun bentuk, seberapa tingkat keparahan, batasan, dan etiologinya, berbagai gangguan ikutan lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan belajar, hal ini semua masih menjadi bahan perdebatan, sehingga sampai saat ini prevalensi yang dilaporkan untuk berbagai negara bagian di Amerika, ataupun di berbagai negara, mempunyai angka dengan range sangat besar. Ada yang melaporkan 3 persen ada pula yang melaporkan 20 persen, bahkan 50 persen (Lloyd dkk, 1997). Hal ini dapat dimengerti karena gangguan LD juga akan menyangkut gangguan kemampuan bahasa yang dipengaruhi oleh sistem tata bahasa suatu kelompok atau bangsa. Dengan begitu alat ukur untuk melakukan tes apakah seorang anak menyandang gangguan belajar untuk suatu negara, tidak bisa menggunakan alat ukur yang dipakai oleh negara lain. Disamping itu masih terdapat berbagai pendapat, kapan usia seorang anak dapat dikatakan sebagai anak penyandang LD. Namun banyak yang sepakat bahwa seorang anak dapat dikatakan menyandang LD jika ia sudah berusia masuk sekolah dasar dan terjadi adanya deskrepansi yang siknifikan antara kinerja dan potensi inteligensia. Crealock & Kroniek (1993) menjelaskan bahwa kondisi LD ini bukan merupakan kondisi tidak normal, tetapi merupakan kondisi seseorang yang hampir normal, karena terganggunya satu atau lebih area inteligensia yang menyebabkan terganggunya fungsi belajar seseorang.

Untuk mengetahui seorang anak menyandang LD diperlukan berbagai tes, namun sayangnya di Indonesia ilmu anak-anak dengan gangguan belajar ini belum populer, begitu juga alat ukurnya belum ada, untuk mengetahui apakah seorang anak penyandang LD, bagaimana bentuk, dan keparahan gangguan, yang kesemuanya diperlukan untuk menentukan strategi menanganinya.

Terlebih lagi, pada anak-anak gifted ini sangat sulit diketahui jika ia menyandang gangguan ini, karena inteligensianya dapat digunakannya untuk menutupi kekurangannya. Ia mampu membangun strategi sendiri, sehingga gangguannya sulit dikenali, dan guru sering tidak menyadari bahwa muridnya adalah anak gifted yang menyandang gangguan belajar (Alja de Bruin-de Boer, 2002).

Pengalaman dari kelompok kami, anak-anak ini mengalami kesulitan membaca di awal sekolah dasar saat ia harus belajar membaca mengeja, namun apabila saat ini bisa dilalui dengan baik, dengan bimbingan menggunakan metoda visual, kesulitan segera dapat diatasi. Namun tidak bagi anggota baru yang anak-anaknya terdeteksi bahwa ia kemungkinan mempunyai keberbakatan setelah berusia di atas 8 tahun, kesulitan ini semakin sulit diatasi karena telah membawa akibat pada masalah lainnya, seperti misalnya berkembangnya konsep diri negatip, faalangst negatip (merasa tidak bisa yang sebenarnya bisa), perkembangan motorik halus yang tidak terarah dimana kordinasi tangan dan jari-jari tidak baik, lateralisasi tidak baik, tidak jelas tangan kiri atau kanan yang kuat, terjadi gangguan pemrograman motorik, tidak terlatih melakukan abstraksi oral dan dalam bentuk tulisan, jatuh dalam pelajaran Agama, PKKn, dan bahasa, mempunyai angka yang jelek dalam pelajaran berhitung mekanis (hapalan), akhirnya dianggap tidak cerdas, tidak naik kelas, dan atau dikeluarkan dari sekolah. Dalam pelajaran berhitung analisis umumnya mendapatkan angka baik, namun tidak demikian dengan berhitung mekanis (hapalan), padahal sementara itu di kelas-kelas awal sekolah dasar anak-anak lebih banyak menerima pelajaran hapalan. Tulisan yang jelek, yang disebabkan karena lemahnya motorik halus, tidak tertangani dengan baik, namun dihukum menulis berlembar-lembar yang menyebabkan kefrustrasian,dan tertekan karena tidak tahan pada rutinitas.

Anak-anak ini sering diberi istilah twice exceptional gifted (gifted dengan keistimewaan ganda) karena masalah giftedness saja sudah membawanya memiliki masalah tersendiri ditambah lagi masalah dalam gangguan belajar. Kadang kita juga menemui dengan istilah unidentified gifted students, sebab anak-anak ini seringkali bukan saja hanya menyandang masalah gangguan belajar, namun juga diikuti dengan masalah gangguan perilaku dan emosional turbulensi sehingga abilities yang dimilikinya tidak teridentifikasi.

Berbagai literatur lama sering menjelaskan bahwa keadaan learning disabilities ini karena adanya deskrepansi yang besar antara verbal IQ dengan performal IQ ( di atas 10 point). Namun berbagai penelitian terakhir dapat diketahui bahwa keadaan ini belum tentu menyebabkan seseorang akan mengalami learning disablities

Continue…

GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 12)

July 22, 2008 at 2:29 am | In family | Leave a Comment
Tags: , , ,

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Hal-hal yang mungkin terjadi dalam tumbuh kembang (Nijenhuis, 2003)

- gangguan perkembangan bahasa dan bicara;

- gangguan belajar (learning disable) terutama pada pelajaran membaca, menulis, dan spelling;

- sekalipun anak-anak ini akan mempunyai inteligensia tinggi (anak ini akan sangat pandai) seringkali mempunyai prestasi yang jelek di sekolah;

- mengalami kesulitan dalam kurikulum klasik;

- mempunyai pemusatan perhatian yang rendah, cepat lelah dalam pelajaran yang menggunakan mondeling lama dan kompleks;

- ia merasa sangat lelah sepulang sekolah ;

- mudah beralih perhatian terhadap bunyian dan berbagai kejadian di sekitarnya ;

- pemahaman terhadap waktu sangat buruk berkembang : mengalami kesulitan mengulang secara kronologis urutan kejadian, dan mengulangi cerita suatu dongeng ;

- tak bisa turut bekerjasama dengan kelompok yang ribut, karenanya kemampuan sosialnya kurang baik berkembang ;

Untuk identifikasi gifted visuo-spatial yang mengalami CAPD ini, Lesley Sword (2002) dari Gifted Center NSW Australia memberikan beberapa patokan, yaitu jika ditemukan tanda-tanda berikut di bawah ini. Tanda-tanda ini digunakan hanya untuk idetifikasi dan selanjutnya diperlukan pemeriksaan oleh psikolog yang mendalami psikologi anak gifted.

1. WISC-III menunjukkan indikator :

  • adanya scater dari skor subtes IQ
  • umumnya skor IQ performal lebih tinggi daripada skor IQ verbal
  • umumnya mempunyai skor yang tinggi pada tes Block Design, Object Assemby dan Similarities

2. Mempunyai riwayat : infeksi telinga, alergi, asma, eksim, tonsillitis, sinusitis hingga

lima tahun pertama.

  1. Mempunyai riwayat conductive hearing loss di usia dini
  2. Tidak punya perhatian yang baik dan kacau
  3. Mempunyai kepekaan waktu yang kurang atau buruk dalam tes waktu.
  4. Mempunyai short term memory yang buruk tetapi mempunyai long term memory yang baik
  5. Sulit menyelesaikan tugas sekolah dan pekerjaan rumah.
  6. Tulisan tangan jelek atau sulit menulis tetap di atas garis, sulit memegang pinsil dengan baik terlalu kuat menekan atau terlalu halus saat menulis
  7. Mempunyai kemampuan mendengar yang jelek, kadang nampak seperti tuli
  8. Tidak mempertahankan kontak mata.
  9. Mempunyai kesulitan dalam spelling dan membaca
  10. Mempunyai kesulitan dalam perkalian dan komputasi
  11. Menyukai ide-ide yang kompleks, sering gagal dalam tugas yang mudah
  12. Bisa membaca dengan suara perlahan dan kesulitan membaca dengan suara keras.
  13. Tidak bisa duduk diam, mempunyai energy yang tak pernah habis, dan selalu gelisah.
  14. Sangat kreatif
  15. Mempunyai perasaan humor yang baik (kadang dengan cara yang berbeda)
  16. Secara emosional sangat sensitif
  17. Sangat sensitif terhadap kritik
  18. Secara fisik sangat sensitif misalnya terhadap suara dan kegaduhan, cahaya.
  19. Menyukai lego, puzzel, jigsaws, computer games, televisi, dan mengkreasi sesuatu
  20. Sangat tidak terorganisasi
  21. Menyukai seni/musik
  22. Mempunyai imajinasi yang hidup dan impian-impian

Sangat ingat jalan-jalan walaupun hanya satu kali lewat.

GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 11)

May 14, 2008 at 7:25 am | In family | Leave a Comment
Tags: , ,

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Beberapa waktu lalu, anak-anak gifted kelompok ini juga diberi istilah gifted with learning disability tetapi penelitian terakhir menunjukkan bahwa anak-anak gifted yang mengalami keterlambatan bicara sekalipun dengan deskrepansi IQ verbal dan performal IQ melebihi 10 point, namun kondisi ini belum tentu akan mengalami learning disabilities (Reuver, 2004). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rigo dkk (1998) terhadap kelompok low achievement gifted student (yang terdiri dari viuso-spatial gifted student) dan learning disabilities gifted student, menunjukkan bahwa memang keduanya mempunyai gangguan dalam auditory processing namun memiliki bentuk CAPD yang berbeda.

Gangguan CAPD ini dapat dilihat dari gejala-gejala sebagai berikut yang oleh Karin Nijenhuis (2003) dari UMC Radbout afd. KNO/audilogisch centrum, Nijmegen, disusunnya dalam buku kecilnya berjudul Kinderen met Luisterproblemen (anak-anak dengan gangguan pendengaran).
Gejala gangguan pengertian:
- si anak sering mengatakan: ‘huh’ atau “apa?”
- si anak tidak bisa mengerti dengan baik bila dilatarbelakangi dengan banyak bunyian (pada pesta, di lapangan sekolah, di kolam renang). Hal ini berlawanan dengan bila di situasi sepi, dimana anak itu dapat mengerti semuanya ;
- perintah mondeling sangat sulit difahami, terutama jika perintahnya panjang dan rumit ;
- seringkali juga mengalami salah pengertian : diskriminasi auditive-nya lemah ;
- anak tersebut memerlukan waktu lebih lama untuk mencari apa yang harus dikatakan karena itu juga membutuhkan pemberian pertanyaan berulang-ulang ;
- mengalami kesulitan untuk mempertahankan informasi mondeling (problem memori) ; informasi mondeling seringkali lebih cepat dilupakan ; tetapi informasi tulisan akan lebih baik diingatnya ;
- saat komunikasi dua arah, perhatiannya seringkali cepat kesasar ke tempat lain, misalnya di rumah saat makan bersama ;
- ia memberikan jawaban yang tak memadai terhadap pertanyaan yang diajukan padanya, jawaban seolah tak cocok dengan pertanyaan ;
- seringkali ucapan/perintah diabaikannya karena ia tak mampu menerima perintah itu ;
- reaksi terhadap ucapan atau pembicaraan sering berubah-ubah, kadang ia bereaksi secara pas, kadang tidak, tergantung dari moednya ;
- seringkali ia memberikan jawaban sebelum pertanyaan yang rumit selesai, karena itu ia sering salah menjawab atau kehilangan jawaban pada bagian akhir pertanyaan ;
- perintah mondeling lebih buruk hasilnya daripada perintah tertulis, anak-anak ini lebih kearah visual daripada auditif;
- jika informasi/perintah diberikan selintasan saja, maka informasi/perintah itu akan buruk diterimanya.

continue…

GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 10)

May 13, 2008 at 7:19 am | In family | Leave a Comment
Tags: , ,

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Peter Vermuelen, seorang orthopedagog yang menspesialisasikan diri pada autisme ber IQ tinggi dan bekerja pada Dinas Austisme Belgia, dalam bukunya Dialogica (2004) banyak menjelaskan tentang memori visual ini yang disebutnya sebagai memori fotografis, yaitu kemampuan seseorang yang mampu meregistrasi secara detil apa yang dilihatnya, dan menyimpannya dalam memorinya. Kedua kelompok Gifted visuo-spatial Learner dan autisme dengan IQ tinggi (Asperger) atau beberapa autisme klasik mempunyai kesamaan yaitu antara lain mempunyai kemampuan ini, namun terdapat beberapa perbedaan jika dilihat pada hasil karya gambar-gambar yang dihasilkan kedua kelompok tersebut. Dalam berbagai bukunya, Peter Vermuelen banyak mengkritik kekeliruan kesimpulan yang hanya melihat dari sisi kemampuan fotografis tersebut. Misalnya van Gogh atau Picasso seorang pelukis berbakat luar biasa yang kreatif sering diberitakan sebagai penyandang autisme. Atau sebaliknya Nadia seorang autis savant yang idiot namun mempunyai kemampuan memori fotografis dan mampu menuangkan dalam bentuk lukisan sekalipun terfiksasi pada figur kuda namun mempunyai kualitas yang sangat baik, oleh Howard Gardner (psikolog Amerika yang terkenal dengan konsep Multiple Intelligence yang di pasaran menimbulkan terjadinya miskonsepsi apa yang disebut dengan anak gifted dan membanjirnya konsep anak bertalenta) disebutnya sebagai the island of giftedness dan menyebut Nadia sebagai anak berbakat jenius, yang kemudian menimbulkan miskonsepsi bahwa seabnormalnya seseorang ia mempunyai bakat jenius. Kesimpulan ini menurut Vermuelen adalah kesimpulan yang keliru, karena pada gambar tersebut harus lagi dilihat beberapa aspek yang membedakan antara karya gambar seorang penyandang autis dan non-autis.

Continue reading GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 10)…

Memancing Kreativitas

May 12, 2008 at 6:53 am | In Career Development | 1 Comment
Tags: ,

Berapa kali Anda merasa otak tiba-tiba kosong dan tidak tahu harus melakukan apa, yang sialnya selalu terjadi saat Anda dikejar deadline laporan yang harus diberikan pada atasan? Bukan hanya itu, Anda tidak bisa menulis apa-apa karena tidak ada bayangan apa yang harus ditulis, sehingga hanya mampu menatap kertas kosong dengan perasaan tak berdaya. Ups, jangan panik dulu. Ini kukan pertanda Anda mulai pikun (dan percaya deh, Anda tidak mengidap penyakit Alzheimer yang menyerang secara mendadak). Bisa jadi, hal ini disebabkan karena Anda harus mulai menyesuaikan diri dengan keadaan baru tersebut.
Jadi bagi Anda yang mungkin saat ini sedang pusing karena terlalu sibuk, istirahat dulu sebentar dan simak artikel berikut. Siapa tahu akan membantu.

1. Lakukan pada waktu yang tepat
Kebanyakan orang yang telah berumur berpikir lebih jernih pada pagi hari; sedangkan mereka yang lebih muda, pada siang hari. Temukan kapan waktu Anda yang tepat, dan selesaikan masalah-masalah yang memerlukan pemikiran di waktu-waktu tersebut.

2. Pendidikan tinggi — namun jangan terlalu berlebihan
Pendidikan sekolah memiliki pengaruh besar dalam memupuk kreativitas seseorang terutama pada masa-masa akhir kuliah, namun penaruh tersebut mulai menurun setelah lulus. Pendidikan memang sangat penting, namun hal itu tidak menjamin kesuksesan Anda di bidang tersebut (alias banyak hal-hal lain yang harus diperhatikan).

3. Mengikuti nasehat Konfusius
salah satu petunjuk mengingat yang selalu digunakan oleh para ahli yang melakukan penelitian tentang ingatan : Supaya tidak lupa bila ada hal penting, tulis di secarik kertas. Sebagaimana kata pepatah Cina, tulisan yang tintanya tidak jelas bertahan lebih lama daripada ingatan paling kuat sekalipun.

4. Tampil bersemangat dengan doping
Penelitian menunjukkan kadar kafein dalam secangkir kopi dapat membantu kita berkonsentrasi terhadap sesuatu hal dengan lebih baik. Namun bagi Anda yang rentan atau mudah terkena depresi, sebaiknya jauhkan diri dari sentuhan kopi karena akan berakibat buruk bagi sel-sel otak.
Continue reading Memancing Kreativitas…

GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 9)

May 10, 2008 at 7:59 am | In family | Leave a Comment
Tags: , ,

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

GIFTED VISUO-SPATIAL LEARNER

Umumnya kita mengenal perkembangan bicara anak-anak gifted mempunyai perkembangan yang harmonis, dengan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa yang sangat baik. Sehingga berbagai subtes IQ-nya menunjukkan keharmonisan serta di usia dini sudah dapat dikenali bahwa ia memiliki skor IQ yang tinggi.

Namun tidak demikian, akhir-akhir ini dikenal berbagai tipe anak gifted lainnya yang sampai saat ini di Indonesia masih belum populer.

Antara lain salah satu tipe yang sering dibahas oleh Linda Silverman (1997, 1998), direktur Gifted Development Center Amerika, menyebut anak-anak ini dengan sebutan Gifted Visuo-spatial Learner. Psikolog umumnya menyebutnya “poor listening comprehension” atau “difficulty following oral direction

Pada anak-anak gifted ini sekalipun mengalami keterlambatan perkembangan bicara karena gangguan pada auditory processing, namun kondisi ini belum tentu kelaknya akan mengalami gangguan perkembangan kemampuan berbahasa dengan profil IQ verbal yang rendah (Rigo dkk, 1998). Begitu pula menurut Greenspan (1995, 1997) dalam pengamatannya, bahwa anak-anak ini setelah dewasa mampu menggunakan bahasa yang sangat luas dengan jumlah vokabulari yang besar. Seperti halnya yang dijelaskan oleh de Hoop & Janson (1999) bahwa anak-anak ini mempunyai pola tumbuh kembang sendiri, yang tidak sama dengan anak-anak pada umumnya. Pola tumbuh kembangnya dengan skala yang besar, waktunya singkat, tetapi tidak sinkron.

Continue reading GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 9)…

Don’t Believe Yourself too much

May 9, 2008 at 7:49 am | In insight | Leave a Comment
Tags: , ,

Believing in yourself means thinking you are a capable person, not that you will never make a mistake. Don’t think that because you are a talented person you cannot learn from others or you should never be criticized or others want to know how highly you think of yourself.

A very rich fellow ran for governor of a Southern state not too long ago. He didn’t like taking directions from people. He was, after all, his own man. He had become very successful on his own, and he thought there was nothing useful anyone could teach him because he already knew everything he needed to know.
Two things came out of this belief. One, people felt that he was full of himself, disagreeable, and not someone they particularly liked or trusted. And, two, when during a debate televised statewide he didn’t know the answer to how the state passed a budget, people felt like his pompous image was a phony mask
covering up for the fact that he really wasn’t that capable. This man didn’t become governor or senator or anything else he ran for. He told people he was too capable to listen and learn. The people told him he was just incapable of listening and learning

Source : David Niven Phd. The 100 Simple Secret of Happy People. 2000

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.