Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • yudhaarga 11:13 pm on August 19, 2012 Permalink | Reply
    Tags: SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H by Yudha Argapratama   

    YUDHA ARGAPRATAMA

    mengucapkan :

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H

    MOHON MAAF LAHIR BATIN

     
  • yudhaarga 8:04 am on August 18, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Kuliah Tauhid Yusuf Mansur : Allah Tidak Pernah meninggalkan kita   

    Kuliah Tauhid Yusuf Mansur : Allah Tidak Pernah meninggalkan kita 

    Tulisan ini saya kutip dari materi Kuliah Online Wisatahati Ustad Yusuf Mansur. Semoga Bermanfaat

    Andai kita menebus segala kesalahan kita dengan dunia yang kita punya, lalu kita mendapati Allah di sisi kita, tentu ini adalah proses pendekatan diri kepada Allah yang murah adanya.
    Seorang bapak datang dalam keadaan bermasalah. Namun berbeda dengan yang lain. Ia datang dengan senyuman. Ia berbagi pengalaman, bahwa ia senang Allah bangkrutkan.
    Saya sudah tahu kemana arahnya pembicaraan dia. Tapi saya biarkan.
    “Kalau saya tidak dibangkrutkan Allah, saya sudah akan terlalu jauh dari Allah,” begitu katanya. “Sangat jauh malah. Saya banyak bermaksiat dengan rizki dan jalan yang justru sesungguhnya diberikan oleh Allah,” katanya lagi.
    Saya kemudian bertanya sedikit kepadanya, “Apa yang didapat setelah jauh dari Allah?”
    “Ketidaktenangan. Ketidaktahuan tujuan hidup. Dan yang lebih jelas lagi, dosa”.
    “Dosa?”
    “Ya, dosa. Makin lama Allah biarkan saya dalam kekayaan, makin banyak rasanya dosa saya. Jangankan urusan yang nyata-nyata sebagai dosa. Urusan meninggalkan shalat sunnah saja kan sebenernya dosa. Ngentengin sunnah. Begitu kan kata Ustadz?”
    “Ya. Betul. Ngentengin sunnah juga merupakan dosa. Kalau terlalu lama ninggalin sunnah, ya bermasalah juga jadinya. Apalagi kalau yang ditinggalkan itu adalah sunnah-sunnah muakkad; sunnah tahajjud, sunnah dhuha, sunnah qabliyah ba’diyah”.
    “Nah ustadz, saya bahkan mulai menyepelekan shalat wajib. Saya ngebayangin, betapa saya menzalimi Allah yang sangat sayang kepada saya. Hingga saya bersyukur bahwa saya diberi-Nya karunia kejatuhan ini”.
    Luar biasa. Sahabat saya ini sudah berhasil menaruh baik sangkanya kepada Allah, dan berhasil memetik hikmahnya.
    Di dalam program Ihyaa-us Sunnah (Program Menghidupkan Sunnah), yang juga akan menjadi program menarik semua peserta KuliahOnline untuk menebus dosa (he he he), dan untuk mengangkat derajat, memang nyata-nyata dipelajari bahwa di balik sunnah itu ada kejayaan. Hamba-hamba Allah memang banyak yang sudah menyepelekan sunnah. Pengertian sunnah masih: “Kalau dikerjakan mendapatkan pahala, kalau tidak dikerjakan, tidak mengapa”. Akhirnya, bener-bener tidak mengapa: “Cuma sunnah ini”, begitu kata sebagian dari kita. Padahal, menjaga sunnah adalah sesuatu yang terpenting yang benar¬benar berpengaruh kepada kualitas hidup kita.
    “Terus, apa yang terjadi?”, tanya saya lebih lanjut kepada beliau.
    “Ya, namanya orang bangkrut, hidup saya penuh dengan masalah. Tapi semakin besar masalah saya, semakin saya bersyukur. Dalem sekali rasa syukur saya. Saya anggap, beban masalah saya adalah pengurangan dosa saya. Semakin berat, maka akan semakin besar pengurangannya. Saya ikhlas menjalani ini ustadz. Ridha sekali. Daripada dipendem di kuburan yang mengerikan, ini saya terima. Saya terima perlakuan dan intimidasi orang-orang yang uangnya di saya dan saya tidak bisa mengembalikan. Saya terima cacian dan makian keluarga saya, saya terima sikap tidak pedulinya kawan-kawan yang kadang menyakitkan saya sebab saya begitu memperhatikan mereka. Saya terima semuanya.”
    Bukan saya berbangga diri. Dia cerita bahwa buku Mencari Tuhan Yang Hilang, buku perdana saya, yang sudah lumayan membentuk kepribadian dia ini. Alhamdulillah, katanya, buku tersebut banyak berisi persoalan-persoalan tauhid, iman, kepasrahan, tanggung jawab, amal saleh, dan lain-lain sebagai bekal di soal kehidupan
    “Apa doa saudara setelah saudara dekat dengan Allah?”, pancing saya.
    “Saya berdoa, agar masalah saya jangan cepat selesai kalau saya belum kuat imannya. Biar saja saya begini dulu. Dunia ramai sekali di luar diri saya, tapi saya merasakan hebatnya bersepi-sepi dengan Allah”.
    “Terus, nasihat apa yang saudara harapkan dari saya?”
    “Saya hanya pengen ketemu ustadz saja. Ga lebih”.
    Dia bicara banyak sekali. Dan saya kira, kedatangannya justru nasihat untuk diri saya. Semakin kaya, semestinya makin hebat shalat wajibnya, makin rajin shalat sunnahnya. Makin jaya, makin bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah. Makin berterima kasih pada-Nya. Bukan sebaliknya. Terlalu mahal tebusannya bila kita tergolong sebagai golongan orang-orang yang melupakan Allah.
    Dia juga mengingatkan tentang diri saya sekian tahun yang lalu. Ketika saya pompa diri ini, bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan saya. Allah tidak akan pernah mengabaikan saya. Allah tidak akan pernah tidak mau menolong. Allah akan selalu menolong. Orang ini mengingatkan saya banget-banget, bahwa ketika Allah ada di kehidupan kita, maka segalanya akan mengalir bahagia. Biarlah Allah yang mengatur hidup kita. Biarlah. Hingga nanti saatnya datang, Allah akan mengulurkan pertolongan-Nya, dan mengangkat derajat kita. Sementara itu, Allah mempersiapkan diri kita untuk menjadi individu yang lebih baik lagi yang lebih hebat lagi. Maka manakalah Allah sudah mengangkat kembali hidup kita, insya Allah dengan izin-Nya, kita akan menjadi manusia-manusia yang banyak manfaatnya.
    “Ustadz, sungguh, saya sedang menunggu takdir Allah terhadap diri saya. Saya belajar dari ustadz. Saya mau memahami bahwa eposide kehidupan saya belumlah berakhir di sini. Masih panjang kan Ustadz…?”.
    Saya selanjutnya membiarkan ia bicara. Kelihatan sekali sebenernya tatapan matanya hampir kosong. Namun iman di hatinya, dan secercah ilmu, sudah menjadi bara di tengah kehampaannya. Semoga ia kuat. Dan dia pasti kuat, insya Allah. Allah teramat suka sama manusia-manusia yang percaya bahwa diri-Nya pasti mengatur yang terbaik. (More …)

     
  • yudhaarga 8:59 am on August 13, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Kuliah Tauhid Yusuf Mansur : Semua Ada Waktunya, Semua Ada Akhirnya   

    Kuliah Tauhid Yusuf Mansur : Semua Ada Waktunya, Semua Ada Akhirnya 

    Tulisan ini saya kutip dari materi Kuliah Online Wisatahati Ustad Yusuf Mansur. Semoga Bermanfaat

    Sebagaimana malam yang segera akan berakhir dan berganti dengan pagi. Segala sesuatu juga ada akhirnya. Termasuk segala permasalahan yang kita hadapi. Ia ada ujungnya. Amal saleh kitalah yang mempercepat perjalanan itu.

    Ada kisah seorang ibu muda. Sebut saja T. Beliau memproses perceraiannya sejak tahun 2001. Gak selesai-selesai. Alih-alih berharap bisa bercerai cepat supaya bisa memulai hidup baru, eh malah beberapa ujian kehidupan muncul. Ibunya menyuruhnya bersabar. “Semua ada waktunya”, begitu nasihat ibunya.

    Setelah sekian tahun, ia diberitahu ibunya agar bersedekah dengan apa yang ia punya. Sedekah yang besar. Bersedekahlah ia.

    Dua tahunan terakhir, ia perbaiki hidupnya. Bila sebelumnya ia belum berjilbab, ia lalu berjilbab dan memperbanyak taubat. Ia usahakan sering mendatangi pengajian. Kegiatan­kegiatan sosial ia ikuti. Ia lupakan persoalan perceraiannya. Ia segarkan hidupnya dengan Karunia Allah yang lain. Dan memang, banyak manusia yang gara-gara secuplik drama kehidupannya yang tidak enak, lantas kemudian membuat matanya tertutup dari Karunia Allah yang sesungguhnya masih teramat besar. Kesusahan hidup, ga sebanding dengan Karunia Allah berupa “hidup” itu sendiri.

    Dan akhirnya waktu yang ia tunggu, tiba. 2 tahun sejak ia bersedekah sesuatu yang besar, ia mendapatkan keputusan cerai. Sepertinya tiba-tiba, dan berproses dengan sangat mudah. Beda sekali dengan waktu-waktu sebelumnya.

    Yang luar biasa, mantan suaminya ini memberinya uang yang sangat besar. Ia mengaku tersentuh dengan ketabahan mantan istrinya, dan ia meminta maaf tidak bisa mengurus anaknya. Sebagai kompensasinya, suaminya ini memberi uang nyaris 1 milyar dari hasil tabungannya pasca bercerai. Bukan harta gono gini. Mantan suaminya hanya minta diikhlaskan segala kesalahannya. Yang membuat ibu T ini agak berdebar dengan cara kerja Allah, mantan suaminya ini bercerita, tabungan yang nyaris 1 milyar tersebut adalah tabungan 2 tahun terakhir. Masya Allah, suaminya ini “bekerja” sebab diatur Allah. Yang mana hasil kerjaannya itu adalah buah sabar dan sedekahnya. (More …)

     
  • yudhaarga 10:49 pm on August 6, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Kuliah Tauhid Yusuf Mansur : Allah Sebagai Pusat by Yudha Argapratama   

    Kuliah Tauhid Yusuf Mansur : Allah Sebagai Pusat by Yudha Argapratama 

    Tulisan ini saya kutip dari materi Kuliah Online Wisatahati Ustad Yusuf Mansur. Semoga Bermanfaat

    Orang-orang yang mengenal Allah dan meyakini-Nya, insya Allah akan tenang hidupnya, jauh dari kekhawatiran, jauh dari kegelisahan.

    Bu Yuyun, sebut saja begitu, punya anak semata wayang yang ia besarkan tanpa suami. Sejak putranya ini masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke hari ia kuatkan batinnya bahwa ia TIDAK SENDIRIAN dalam membesarkan anaknya. Ia bersama Allah. ALLAH SELALU MENEMANINYA. Ini yang ia yakini. Saban shalat ia berdoa agar diberi kemampuan membesarkan anaknya dan memiliki rizki yang cukup. Ya, bener loh. Hampir saban shalat.

    Saya banyak belajar dari Bu Yuyun ini. Ketika banyak orang gelisah, ia hidup tenang. Sebab ada Allah di hatinya, ada Allah di pikirannya. Ketika banyak orang ketakutan dan risau dengan dunianya, ia tenang-tenang saja. Persis seperti meja, yang begitu tenang sebab memiliki empat kaki yang kuat yang menopang keberadaannya. Hidupnya begitu santai. Dan ini yang menjadikannya lebih kaya ketimbang orang yang kaya tapi hidup selalu penuh dengan kekurangan.

    Sebagai ikhtiar dunianya, ia membuka jahitan rumahan. Ia bertutur, selalu ada saja pelanggan di saat yang tepat ia membutuhkan rizki. Sudah diatur Allah, begitu katanya.

    Sejauh ini, aman-aman saja.

    Sampe kemudian anaknya ini pergi hari itu untuk melihat kelulusannya; masuk atau tidak ia ke perguruan tinggi yang ia idam-idamkan.

    Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini masalah buat dirinya. Kalau anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang dapat masalah dalam bentuk anaknya lulus. Masalahnya tentu saja apalagi kalau bukan uang kuliah anaknya. Tapi segera ia banting sesuai dengan pengalamannya selama ini. Ada Allah Yang Maha Memberi Rizki. Dan ini yang membuatnya tenang.

    Ia kenal dengan Allah, bahwa Allah selama ini senantiasa mencukupkan rizki buat dirinya dan anaknya. (More …)

     
  • yudhaarga 11:28 am on June 18, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Tantangan berikutnya : Trainer make Trainers by Yudha Argapratama   

    Tantangan berikutnya : Trainer make Trainers by Yudha Argapratama 

    Sebutlah namanya Sudarto, biasa dipanggil Pak Darto, usia 36 tahun, pendidikan SMA. Sehari –hari bekerja di Bagian Mesin Pembakaran di perusahaan tempat saya bekerja. Memulai karir dari operator, dan setelah sekian tahun beliau akhirnya menjadi Kepala Regu. Tanpa terasa sudah 16 tahun bekerja di perusahaan.   Punya usaha sambilan warung bakso di rumahnya. Aktivitas lain, menjadi Ketua Serikat Pekerja di Perusahaan. Sudah menjabat 3 periode.

    Sebagai HRD yang baru bergabung di perusahaan saat ini, tugas saya adalah mencari kandidat – kandidat pimpinan menengah di  perusahaan. Organisasi yang sedang berkembang, perlu  banyak pimpinan  yang bisa mengisi beberapa posisi yang kosong di level menengah. Dan sebaiknya direkrut dari dalam, bukan dari luar perusahaan. Jadi Pak Sudarto termasuk yang saya pantau potensi dan performancenya selama beberapa bulan ini.  Dan saya temukan beliau potensial untuk mengisi jabatan Wakil Kepala Seksi yang yang dibutuhkan perusahaan.

    Saya ingat sekali obrolan saya dengan beliau dua bulan  yang lalu. Saat itu perusahaan sedang membuka lowongan internal untuk Promosi menjadi Wakil Kepala Seksi di beberapa bagian. Beliau sepertinya tenang-tenang saja. Kayak tidak berminat. Apa yang saya obrolkan ?

    “Pak Darto, kok ga ikut ngelamar untuk promosi Wakasi ? saya lihat bapak punya potensi lho “

    Beliau menjawab, “ Wah ngga lah pak, saya kan ketua Serikat Pekerja. Saya ga enak sama-sama teman – teman yang lain. “

    “Memangnya masa jabatan Ketua SP sampai kapan Pak?”

    “Sampai Juli 2013.”

    “Wah, sebentar lagi dong. Kalo gitu bapak saya ajukan promosinya setelah lengser aja ya? Kan kalau saat itu sudah ga masalah dong. Ga mungkin dikomplain teman-teman.”

    “Ngga lah Pak. Saya sudah memilih jalan hidup saya untuk berkontribusi terhadap perjuangan kesejahteraan Pekerja. Walaupun nanti sudah tidak menjabat lagi. Saya cukup jadi kepala regu saja.”

    Saya terdiam. Jarang saya temui orang yang bisa konsisten seperti ini. Kebanyakan yang saya temui, orang berjuang pada saat dia merasa kecewa, terbuang, atau tidak punya pilihan. Tetapi pada saat ada kesempatan untuk dapat tambahan (entah promosi atau naik gaji), dia lupa pada perjuangannya. Bapak yang satu ini beda.

    Akhirnya saya bicara “Tapi bapak tetap mau kontribusi ke perusahaan kan?”

    “Ya iyalah Pak. Kan saya cari makan di perusahaan ini. Masa saya ga mau.”

    Saya bilang  “Ok kalau begitu, gimana kalau bapak jadi Trainer ?”

    “ Trainer ? Trainer apaan pak? Emangnya saya bisa, lagipula saya ga pinter  ngomong di depan orang”

    “ Ya trainer buat para operator. Saya sudah jadwalin programnya. Teman-teman kita butuh training tentang etos kerja. Dan saya pikir bapak cocok untuk materi itu. Kan bapak udah biasa bicara di depan pekerja”

    “ Nanti modulnya gimana Pak? Trus cara ngasih trainingnya gimana pak?”

    “Tenang aja, nanti kita belajar bareng. Ada beberapa teman yang juga saya minta bantuannya untuk jadi trainer. Saya sudah jadwalkan untuk sharing tentang training delivery”

    Akhirnya beliau mau. Dan setelah saya sharing dengan beliau dan teman-teman tentang training  delivery, beliau dijadwalkan untuk memberikan training kepada operator untuk materi etos kerja.

    Dan minggu lalu, dua hari sebelum saya berangkat ke Trainers Bootcamp, Pak Sudarto mendeliver materi training pertamanya. Dan hasilnya, menurut saya luar biasa. Penyampaian beliau sangat membumi. Peserta  yang levelnya operator sampai terpukau dengan penampilan beliau. Saya yang duduk di belakang mengamati, sampai tidak bisa berkata apa-apa. Luar biasa Potensi seseorang saat kita bisa menemukan dan mengasahnya. Dan ini baru awal fase hidup beliau menjadi Trainer.

    Saat saya membuat tulisan ini setelah Trainers Bootcamp, saya teringat Pak Sudarto. Ada rasa puas dan bangga di hati. Dan saya memahami, mungkin  inilah yang dirasakan Pak Jamil Azzaini dan kawan-kawan. Kenapa beliau-beliau dengan rela berbagi ilmunya untuk mencetak trainer-trainer handal. Rasa bahagia yang tidak tergantikan dengan uang sekalipun. Saat Trainer bisa mencetak Trainer yang bahkan lebih hebat dari dirinya, itulah pencapaian tertinggi seorang Trainer. Trainer make Trainers.

    Dan saya temukan juga, jangan tunggu jadi Trainer Hebat untuk membagi kemampuan delivery training yang anda punya. Justru anda akan jadi Trainer Hebat, setelah anda membaginya.

    Jadi, Kalau Anda seorang Trainer,  apakah Anda siap dengan tantangan berikutnya :  Trainer make Trainers ?

     

    Catatan :

    Setelah saya ikut Trainers Bootcamp, saya punya pe-er untuk sharing lagi tentang training delivery kepada Pak Darto dan kawan-kawan. Karena yang saya bagi sebelumnya, masih banyak yang kurang bahkan ada beberapa yang perlu diperbaiki. Lets Celebrate knowledge & Keep Never Ending Learning…

    Tulisan ini pernah saya posting di : http://www.trainerlaris.com

     
  • yudhaarga 1:58 am on June 12, 2012 Permalink | Reply  

    Selalu ada pembelajaran baru setiap. Hari ini belajar tentang menanamkan belief dan values. Jadi kayak perang informasi. Keep the spirit…

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • yudhaarga 11:26 am on June 11, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Narsis Tanpa Kaca by Yudha Argapratama   

    Narsis Tanpa Kaca by Yudha Argapratama 

    Ada dua hal menarik yang saya pelajari dari kelas Trainers Bootcamp yang saya ikuti kemarin. Dua hal ini merubah mindset saya selama ini tentang perilaku Seorang Trainer dalam men-deliver training kepada audiensnya. Mindset yang waktu saya pahami, seolah–olah kepala saya seperti dibenturkan ke tembok yang keras, karena selama ini ternyata saya belum mempraktekkannya.
    Pasti anda penasaran, apaan sih ?
    So Kita bahas yuk …
    Pertama, jadi Trainer itu harus Narsis
    Ini termasuk kalimat yang cukup banyak saya dengar dalam kegiatan Trainers Bootcamp. Entah dari teman sesama peserta, fasilitator, bahkan dari Pak Jamil Azzaini sendiri menyampaikan hal tersebut. Mungkin banyak dari kita yang merasa, kok gitu ya? Bukannya jadi Trainer itu harus rendah hati, baik hati dan tidak sombong ? Bukannya jadi trainer itu harus ja-im (jaga image)?
    Tapi itulah yang saya dapat. Semua aktivitas dan latihan yang dilakukan, semua mengarahkan kita para Trainer untuk jadi lebih Narsis. Bayangkan, kita harus latihan olah tubuh yang membuat tubuh kita lepas dari belenggu pikiran. Harus mengekspresikan seliar-liarnya gerakan tubuh kita. Kita juga harus olah vokal kita dengan sebaik mungkin. Kapan harus teriak, kapan harus berbisik. Kapan harus cepat, kapan harus lambat. Kapan harus jeda, kapan harus bicara lagi. Kita juga harus latihan gimana menarik perhatian audiens. Bahkan dengan segala cara. Kalo perlu, kita harus berani tampil memalukan di depan peserta.
    Kedua, Kalau Anda Narsis, Narsislah untuk memuaskan Audiens Anda
    Whats ! apa lagi ini. Bukannya Narsis itu untuk diri sendiri. Bukannya kita harus tampil sebaik mungkin untuk memuaskan diri kita ? Makanya, inilah yang membuat saya harus membenturkan kepala saya berkali-kali ke tembok yang keras (lebai banget kan? Narsis lagi kan? Kayaknya udah keserap ilmunya. Hehehe..). (More …)

     
  • yudhaarga 10:24 pm on June 10, 2012 Permalink | Reply  

    Let’s start Senin pagi dengan penuh semangat..

     
  • yudhaarga 12:10 pm on June 10, 2012 Permalink | Reply  

    Come on. Mulai mulai nulis lagi….!!!

     
  • yudhaarga 3:25 pm on February 10, 2012 Permalink | Reply  

    SUKSES sama dengan fungsi dari 5K 

    Sudah banyak Buku dan Ahli yang menjelaskan Faktor-Faktor KESUKSESAN. Tidak terhitung tips, saran dan rekomendasi yang kalau dipahami dan diterapkan, pasti kita akan lebih SUKSES dalam kehidupan. Kali ini saya dan Pak Edyson Firdaus mencoba merumuskan Aspek-aspek penunjang KESUKSESAN berdasarkan temuan dan pengalaman kami selama ini. Mungkin ini bukan rumusan original yang baru sama sekali. Tetapi kami mencoba menambahkan pemahaman baru yang kami temui dan alami sendiri. Semoga bisa memperkaya pemahaman kita akan hakikat SUKSES, dan yang paling penting, maukah kita menerapkannya?

    Kalau kita gunakan fungsi matematika, ternyata SUKSES =f {5K}
    Apa itu 5K ?
    5 K itu merupakan singkatan dari :
    1. Kemauan (Will/Motivation)
    2. Kelakuan (Behavior)
    3. Kesempatan (Opportunity)
    4. Keberuntungan (Lucky)
    5. Kemampuan (Ability/Skill)

    Jadi SUKSES = f{Kemauan, Kelakuan, Kesempatan, Keberuntungan,Kemampuan}
    Bagaimana cara memahaminya ?
    Kita lihat pembahasan berikut :
    1. Kalau kita perhatikan ke lima fungsi di atas, ternyata Kemampuan (Ability/Skill ) hanya berkontribusi 1 dari 5 aspek saja alias hanya 20% dari faktor yang menunjang KESUKSESAN. Banyak orang yang berpikir, kalau saya fokus meningkatkan Kemampuan, otomatis saya akan sukses. Ternyata tidak selalu seperti itu. Hal ini menjelaskan, kenapa ada orang yang dianggap Pintar /Cerdas (alias kemampuannya Tinggi), tidak selalu sukses dalam karir maupun kehidupannya. Karena Kemampuan saja tidak cukup. Bahkan Kemampuan berada di urutan terakhir dari aspek kesuksesan. Biasanya orang cenderung lebih cepat SUKSES, setelah dia penuhi 4 Aspek di awal, dan baru kemudian Kemampuan akan dapat dengan sendirinya. (More …)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.