GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 8)
May 8, 2008 at 7:55 am | In family | Leave a CommentTags: autisme, gifted children, parenting
Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.
Mooij (1992) mengutip Freeman (1983) Heinbokel (1988) dan Laycock (1957) tentang gejala anak-anak gifted sejak bayi yaitu :
- seringkali lahir sebagai bayi besar dan berat
- sering menunjukkan bunyi-bunyian (menangis, membuat bunyi-bunyian)
- banyak gerak dan hidup, mempunyai banyak enerji
- sangat dini sudah menginginkan dan dapat mengangkat kepala
- menunjukkan perhatian yang besar dan ingin melihat segala sesuatu
- sangat tidak sabaran dan selalu tegang
- sangat dini sudah mempunyai kontak mata
- menginginkan penerapan segera apa yang diketahuinya, atau sibuk menerapkan ke suatu tujuan, semuanya itu atas kebutuhan dorongan motivasi internalnya, dan tidak bisa digantikan karena adanya pujian, penghargaan, atau hadiah
Continue reading GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 8)…
If you’re not sure, guest positively
May 7, 2008 at 7:38 am | In insight | 1 CommentTags: happy, positive thinking
Unhappy people take a situation in which they are not sure and come to a negative conclusion. For example, if they aren’t certain why another person is being nice, they assume that the person must have a hidden selfish agenda. Happy people take that same situation and guess the positive possibility, that is, that the person really is nice.
Henry is a seventy-year-old man who always had a good word for his neighbors. He lived modestly in Arkansas in a small home with only a wood stove for heat. Over the years, Henry watched his home deteriorate steadily. But he was too old and had too little money to fix it up. One of his neighbors organized a group to virtually rebuild Henry’s house, giving it modern heat and plumbing. Henry was stunned by this. Why were all these people taking such an interest in him, in his house? He initially wondered, What did they stand to gain? Were they trying to change his house so that it would make their houses worth more?
Any situation can be viewed as an act of selfishness, if that’s how you want to view it. Taking this perspective makes us cold,critical, and cynical. And there’s no way out of it, because a person
we view negatively cannot do anything to improve our impression of them. We need to consider that our perspective on what motivates people can either be a source of comfort to us or a source of alarm.
Henry’s ultimate conclusion: “These were just good peopledoing a good thing, and I thank them for it.”
Source : David Niven Phd. The 100 Simple Secret of Happy People. 2000
BEKALI ANAK HIPERAKTIF SEJAK DARI RUMAH
May 6, 2008 at 7:25 am | In family | 1 CommentTags: anak, hiperaktif, parenting
Contributed by Dra. Adriana S. Ginanjar, MS – Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas) sering kali tidak disadari orang tua, dan baru tampak nyata setelah anak masuk sekolah. Mendeteksi dan menanganinya sejak dini akan menentukan masa depan si anak. Semua tentu berawal dari rumah. Setelah deteksi masalah anak secara dini, orang tua perlu mencari informasi tentang penanganan GPPH. Menjalin hubungan dengan sesama orang tua yang punya masalah sama sangat membantu mendapatkan info tentang penanganan yang tepat, rujukan tempat terapi, dan sekolah yang sesuai untuk anak. Karena anak GPPH biasanya memerlukan dokter anak, psikolog, psikiater, guru, dan terapis, orang tua punya peranan memilih tim yang dirasa paling pas untuk anaknya.
Juga yang terpenting, dari rumahlah anak dibekali pemahaman tentang kondisinya agar ia tak menilai dirinya sebagai anak bodoh, selalu gagal, atau merasa tak disayang oleh keluarga. Memang tak mudah menangani anak GPPH di rumah. Orang tua tak hanya dituntut belajar berbagai strategi mengatur tingkah laku, juga perlu kerja keras, konsistensi, dan kesabaran. Sebab, terkadang cara disiplin yang sukses untuk anak lain tak bisa diberlakukan pada anak istimewa ini. Strategi apa yang secara umum terbukti berhasil?
Continue reading BEKALI ANAK HIPERAKTIF SEJAK DARI RUMAH…
Mungkinkah ia indigo ?
May 5, 2008 at 6:37 am | In family | 1 CommentTags: anak, indigo, parenting
Belum genap dua tahun, batita Anda sudah lancar bicara dan kadang malah terkesan sok tahu. Anehnya, Anda kerap memergokinya sedang bicara sendiri. Apakah ada yang salah dengan dirinya?
Pernahkah Anda bertanya-tanya tentang perilaku si kecil yang “lain” itu? Kadang-kadang perilaku anak Anda terlihat seperti gejala autisme. Kali lain, ia tampak cepat bosan pada mainannya. Waktu berikutnya, ia mengaku melihat hantu, atau meramalkan masa depan seperti seorang cenayang. Coba amati lagi lebih dekat. Mungkinkah si kecil termasuk anak indigo.
Menurut Lee Carroll dan Jan Tober, penulis buku The Indigo Children: The New Kids Have Arrived, anak indigo adalah anak yang memiliki karakteristik psikologis yang baru dan tidak biasa serta menunjukkan
pola perilaku yang secara umum belum pernah tercatat. Pola perilaku yang unik ini bisa menimbulkan frustasi pada diri si anak. Untuk mencegahnya, anak indigo membutuhkan perhatian khusus dari orang tua dan guru agar ia dapat mencapai keseimbangan dan harmoni.
Anak Indigo vs Anak Spesial Lainnya
Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp. KJ (K) menjelaskan, asal mula seorang anak disebut Indigo adalah, saat seorang anak dalam keadaan sehat, aura yang terpancar dari dirinya berwarna biru keunguan (dalam bahasa Spanyol disebut indigo). Setiap generasi memang memiliki warna dominan yang berbeda, dan anak-anak dengan warna aura indigo adalah hasil evolusi generasi manusia dari warna aura biru menuju ungu. Anak-anak beraura warna indigo ini paling banyak lahir pada tahun 2000-an. Warna aura indigo adalah peralihan dari aura biru ke ungu. Warna aura biru melambangkan rasio atau nalar sedangkan ungu melambangkan spiritualitas. Kombinasi inilah yang menjelaskan mengapa anak indigo memiliki dua atribut utama, yakni kecerdasan dan juga kemampuan spiritual yang tinggi. Jadi apabila Anda melihat balita Anda berdaya tangkap cepat dan memiliki empati yang tinggi terhadap sekelilingnya, coba ajak ke psikolog atau psikiater anak untuk memeriksa lebih jauh apakah si kecil Anda memang indigo. “Anak indigo tidak sama dengan anak dengan ADD/ADHD yang mudah bosan atau tidak bertahan lama dalam mengerjakan sesuatu. Bila anak indigo melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat menyelesaikannya sebelum beralih pada kegiatan lain. Dari luar, kecepatan peralihan ini terlihat mirip ADD/ADHD. Selain itu, anak indigo yang aktif tidak bersifat destruktif seperti anak dengan ADD/ADHD,” kata Dr. Erwin menjelaskan. Masih menurut Dr. Erwin, anak indigo kerap dikira anak autis karena mereka kadang suka berbicara sendiri. Padahal, anak indigo yang dikira sedang berbicara sendiri, bisa jadi sedang berkontemplasi atau berkomunikasi dengan makhluk halus. Perbedaan anak indigo dengan anak autis adalah cara mereka berinteraksi. Tidak seperti anak autis, anak indigo dapat berbicara secara konsisten dan teratur. Anak indigo juga bisa bersosialisasi, hanya saja anak indigo merasa lebih cocok dengan orang yang lebih rasional dan spiritual. Selain autisme dan ADD/ADHD, masyarakat juga sering menyalahartikan anak indigo dengan paranormal atau cenayang. Berdasarkan penjelasan Dr. Erwin, anak indigo memang memiliki kemampuan extra-sensory perception (ESP) yang dapat melihat makhluk halus atau melihat masa lalu atau masa depan, tetapi hal ini hanya satu dari banyak sekali karakter anak indigo. Anak indigo memiliki kecerdasan rasio yang tinggi, sedangkan paranormal atau cenayang belum tentu cerdas.
Continue reading Mungkinkah ia indigo ?…
REASONS FOR CAREER SWITCHING
May 4, 2008 at 4:43 am | In Career Development | Leave a CommentTags: career
The reasons for wanting to switch careers range from the practical to the idealistic. Most likely your list will include many of these factors:
• You have a chance to escape a fast-lane urban lifestyle.
• Your job and career no longer interest you; maybe they bore you.
• The idea of 20 more years in the same career has lost its appeal.
• You would like to work in a different part of the country.
• You’ve been downsized, fired, canned, pinked-slipped, or whatever you—and your former employer—want to call it.
• You see little room for future growth in your current career.
• You feel a “calling” to do something else in life.
Continue reading REASONS FOR CAREER SWITCHING…
GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 7)
May 3, 2008 at 4:33 am | In family | Leave a CommentTags: parenting, gifted children, autisme
Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.
GEJALA ANAK YANG MENGALAMI LONCATAN PERKEMBANGAN
Karena untuk deteksi balita yang mempunyai potensi gifted belum dapat dilakukan tes IQ, maka Alja de Bruin – de Boer (2003) memberikan beberapa patokan sebagai pegangan untuk melihat gejala-gejala pada balita yang mengalami loncatan perkembangan, bahwa kita bisa melihat dari hal-hal berikut ini :
- Motoriknya berkembang sangat baik : umumnya pada usia yang masih sangat muda anak-anak ini mempunyai perkembangan motorik yang lebih baik dari anak seusianya. Mereka duduk dan berjalan lebih dahulu dari teman sebayanya, dan masih sangat muda sudah dapat bermain dengan material yang kecil kecil.
- Penggunaan bahasa yang sangat baik : sebagian anak berbakat mempunyai perkembangan bicara dan bahasa yang sangat cepat, tetapi sebagiannya lagi mengalami keterlambatan bicara namun lambat laun ia akan segera menyusul ketertinggalannya dan segera menggunakan bahasa yang sulit seperti misalnya ‘mesin cuci baju ‘. Mereka memiliki vokabulari yang luas yang hanya sekali saja ditangkapnya dan esoknya sudah bisa menggunakannya dalam konteks yang benar. Penambahan kata-kata kerja juga baginya akan tidak menjadi masalah.
- Sangat mandiri : para orang tua melaporkan bahwa anak-anak ini sejak masih kecil sekali sudah ingin melakukan segala hal sendiri. Makan sendiri, pakai baju, dan menalikan tali sepatu.
- Memiliki enerji yang luar biasa dan sangat banyak gerak : anak-anak ini bagai anak yang tak pernah lelah. Sering mereka sangat sedikit membutuhkan waktu atau jam tidur, dan selalu ingin melakukan berbagai hal. Sejak kecil sekali ia sudah membenci pengulangan-pengulangan, karenanya ia seperti tidak mau lagi melihat alat-alat permainannya. Mereka memiliki begitu banyak interes dan selalu bertanya. Bila ia mendapatkan satu jawaban, segera jawaban itu akan berbuntut dengan pertanyaan baru. Sebagian dari anak-anak ini tidak mau segera menerima begitu saja pendapat orang lain, misalnya dia tak ingin mendengarkan jika api itu panas, dan ia ingin mencobanya sendiri benarkah api itu panas. Dia juga ingin sekali tahu bagaimana jika roti diletakkan ke dalam videorecorder sebagi ganti videocasset.
Continue reading GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 7)…
GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 6)
May 2, 2008 at 5:22 am | In family | Leave a CommentTags: parenting, autisme
Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.
MASALAH YANG DAPAT DITIMBULKAN KARENA KARAKTERISTIK ANAK BERBAKAT
Karakteristik anak berbakat bukan melulu bahwa ia mempunyai kecerdasan tinggi, namun berbagai karakteristik yang dimilikinya dapat menimbulkan berbagai masalah baik masalah perilaku agresif, gangguan psikologis, sosial, dan psikosomatik. Bisa kita lihat seperti bagan di bawah ini:
Continue reading GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 6)…
16 Tools for Effective Parents (part 3)
April 30, 2008 at 6:09 am | In family | Leave a CommentTags: child, parenting
Dealing with problems
n 11. Use “I” statements. Let your child know how you feel, why, and what you want them to do. “I feel when you because . This is what I want you to do .” Example: When your daughter leaves her curling iron on, you might say, “I worry when you leave the curling iron on because it uses electricity and could start a fire. Please go turn it off right now.”
n 12. Use natural consequences. Let your child learn from what happens naturally without scolding, lecturing, or rescuing. Example: When your son forgets his gloves on a cold day, let him find out how uncomfortable he getsso that he will decide on his own to remember next time. Don’t lecture!
n 13. Use logical consequences. Create consequences with your child for specific rules. They should be related to the rule broken, reasonable, and respectful. Remember, rules and consequences should change as your child grows and develops. However, children of all ages need rules to help provide them with structure for living. It is important that parents communicate rules and consequences clearly to their child ahead of time. Example: If your daughter comes home late in the evening after spending time with a friend, remind her that the consequence is not getting to go out the next evening.
GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 5)
April 29, 2008 at 6:05 am | In family | Leave a CommentTags: autis, gifted children, parenting
Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.
Part 5
3. MENGENALI ANAK & BALITA BERBAKAT
Kelompok kami (para orang tua anak berbakat), mempunyai anak balita dan anak-anak yang lebih besar berbakat (terlebih mereka yang merupakan anak berbakat luar biasa), umumnya mengalami kefrustrasian dan keputus-asaan menghadapi perilaku anaknya, begitu pula gurunya. Ketidak mengertian akan perilaku yang dianggapnya menyimpang dari pola normal menyebabkan para orang tua dan guru berfikir kearah gangguan perilaku dan mental. Karena itu agar tidak terjadi kesalah mengertian terhadap anak-anak ini dibutuhkan pengetahuan yang luas untuk memahami berbagai aspek tumbuh kembang serta personalitasnya, yang tentu saja memerlukan bantuan dari berbagai ahli yang mempunyai perhatian pada anak-anak berbakat secara multidisiplin. Pemahaman ini bukan saja akan memberikan ketrampilan dalam tugas pengasuhan dan pendidikannya secara baik, dalam menghadapi masa balita yang penuh dengan gejolak tumbuh kembang yang berbeda dari anak lain pada umumnya ini, yang betul-betul melelahkan, menguras tenaga dan fikiran, tetapi juga pengetahuan yang luas ini, akan mampu menumbuhkan rasa kesabaran yang luar biasa bagi orang tua. Sering pula dibutuhkan family counceling karena sering terjadi ketidak samaan pendapat dalam memandang faktor kuat dan faktor lemah si anak yang tidak jarang menyebabkan percekcokan rumah tangga dan berakhir pada perceraian. Pengetahuan ini sangatlah penting karena masa balita adalah masa yang sangat rentan dalam tumbuh kembangnya, dan anak-anak ini tentu saja memerlukan lingkungan yang aman agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara sehat.
Continue reading GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 5)…
GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 4)
April 28, 2008 at 10:43 am | In family | Leave a CommentTags: autis, gifted children, parenting
Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.
Part 4
PENGERTIAN KEBERBAKATAN
Renzulli mengidentifikasikan bahwa seorang anak yang dapat dikatakan sebagai anak berbakat jika ia mempunyai:
1) inteligensia yang tinggi di atas rata-rata ;
2) kreativitas yang tinggi;
3) motivasi dan ketahanan kerja yang tinggi
Namun Mönks menambahkan potensi itu tidak akan terwujud jika tidak ada dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan. Dari kedua ahli ini maka dilengkapilah pengertian apa yang disebut keberbakatan dengan ringkasan yang disebut Triadik Renzulli-Mönks.
Continue reading GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 4)…
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

