GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 1)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

PENDAHULUAN DAN MASALAH

Akhir-akhir ini banyak dilaporkan adanya overdiagnosa dan misdiagnosa terhadap anak-anak gifted (anak berbakat atau anak luar biasa) terutama yang saat balitanya mengalami perkembangan tidak sinkron (disinkronitas perkembangan) dan menerima berbagai diagnosa gangguan mental dan perilaku atau disorder (Webb, 2000; van Vugt-van de Moosdijk, 2002) serta menerima overterapi yang tidak jarang merupakan terapi non medik dan radikal. Anak-anak ini beberapa karakteristik dan tumbuh kembangnya yang berbeda dengan anak-anak normal sering disalahmengertikan bukan saja oleh tenaga kesehatan, psikolog, pendidik, orang tua, tetapi juga oleh masyarakat (Webb, 2000). Tidak disangkal pula bahwa pada anak-anak ini bisa saja terjadi adanya komorbiditas masalah giftedness dan gangguan perilaku maupun gangguan perkembangan, atau sebaliknya masalah karakteristik, kebutuhan dan personalitas anak-anak gifted yang tak tertangani dengan baik akan memberikan gambaran masalah seperti halnya anak-anak bergangguan perkembangan dan perilaku, hal inilah yang paling sering menyebabkan kekeliruan diagnosa (van Vugt-van de Moosdijk, 2002).

Istilah anak gifted atau gifted children dalam bahasa Indonesia sering digunakan istilah anak berbakat, anak luar biasa, dan istilah anak berbakat luar biasa digunakan untuk anak-anak jenius. Beberapa kalangan ahli anak berbakat sering membagi keberbakatan dalam tingkatan IQ, yaitu 130 – 140 adalah moderate gifted, 140- 150 adalah highly gifted, dan > 150 adalah anak jenius. Disamping itu juga pengertiannya akan menyangkut bahwa seseorang yang dapat dikatakan sebagai anak gifted adalah jika ia mempunyai kemampuan inteligensia di atas rata-rata, kreativitas yang tinggi, serta motivasi dan ketahan kerja yang tinggi.

Masalah misdiagnosa ini oleh Webb (2000) diidentifikasi disebabkan karena:

1. Faktor internal.

Selama ini para ilmuwan anak berbakat lebih banyak memfokuskan perhatiannya pada aspek intelektual, atau masalah-masalah akademik. Hingga kini masih sedikit sekali yang memperhatikan pada faktor personalitas dan kaitannya dengan intelektualitas dan kreativitas yang tinggi. Begitu juga sangat minimnya perhatian para ilmuwan untuk melakukan observasi terhadap intensitas faktor personalitas yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam hidupnya bila anak-anak itu mempunyai skor IQ lebih besar dari 130.

2. Faktor situasional.

Minimnya perhatian pendidikan yang sesuai untuk anak-anak gifted, serta kurang toleransinya terhadap faktor personalitas anak gifted baik yang diberikan oleh fihak pendidik, profesi kesehatan, orang tua, dan masyarakat, telah menggiringnya pada label yang keliru yang justru lebih mendorong terjadinya kesalahan diagnosa.

JF Mönks, mantan presiden European Council for High Ability menjelaskan bahwa perkembangan kognitif mempunyai peranan yang besar terhadap perkembangan emosi dan sosial, yang pada akhirnya juga mempengaruhi perkembangan seorang anak secara keseluruhan (Mönks, 1999).

Sementara itu perkembangan kognitif sebagai salah satu faktor yang menentukan prognosa, dalam deteksi dini autisme tidak menjadi faktor yang dilihat.

Situasi ini justru membawa risiko terlibatnya anak-anak gifted ini masuk ke dalam kriteria gangguan perkembangan autisme di bawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) baik dari ICD-10 maupun dari DSM IV menurut APA (American Psychiatry Assosiation). Umumnya anak-anak gifted ini dimasukkan ke dalam kelompok PDDNOS (Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified) karena mereka tidak secara penuh dapat memenuhi kriteria autisme (van Vugt -van de Moosdijk,2002).

PDDNOS ini kemudian disebut sebagai autisme atipikal untuk membedakan dengan autisme klasik, yang kesemuanya kemudian dikelompokkan menjadi autisme spectrum disorder (ASD). Namun kemudian orang tidak bisa lagi membedakan di bagian mana anak itu duduk di dalam spektrum. Dan para orang tua pun tidak lagi menghiraukan perbedaannya antara autisme klasik dan PDDNOS, yang pada akhirnya akan berpengaruh juga dalam memilih dan mencari berbagai terapi yang ditawarkan, serta bimbingan, pengasuhan dan pendidikannya. Sementara itu tingkat penelitian terhadap PDDNOS sangat rendah. Dengan kata lain penyusunan kriteria ini tidak didukung penelitian, baik penelitian untuk melihat prevalensinya, latar belakang neurobiologis, kognitif, dan korelasi psikologisnya. Dengan sendirinya terjadilah peledakan angka autisme yang sebetulnya lebih banyak diduduki oleh angka PDDNOS ( Buitelaar & van der Gaag, 1998; Paternotte, 1997). Sedang dalam uji sensitivitas kriteria untuk membedakan antara PDDNOS dengan non-PDD dengan menggunakan kriteria yang digunakan dalam DSM IV/ICD-10, oleh Buitelaar dkk dilakukan uji lapangan yang diikuti selama tiga tahun, menunjukkan bahwa sensitivitasnya sangat lemah untuk dapat dikatakan sebagai requisite tatalaksana skoring (Buitelaar & van der Gaag, 1998). Dari penelitian yang dilakukan oleh Buitelaar,van der Gaag, Klin & Volkmar (1999) juga memperlihatkan bahwa kelompok PDDNOS ini menunjukkan kategori yang sangat heterogen jika dibandingkan dengan autisme tipikal/klasik.

JK Buitelaar, guru besar ilmu psikiatri dari Universitas Utrecht Negeri Belanda, banyak mengkritik masalah kesalahan diagnosa dengan penggunaan DSM IV/ICD-10 ini, dengan mengatakan bahwa, artinya penggunaan DSM IV/ICD-10 untuk deteksi dini autisme ini sangat lemah untuk dapat membedakan anak-anak dengan gelaja autistik PDD dan non-autistik PDD (Buitelaar & van der Gaag, 1998). Sementara itu, salah satu symptom PDDNOS adalah gangguan dalam komunikasi nonverbal (komunikasi simbolik) yang merupakan sympton paling utama, dimana kondisi defisit ini antara lain akan menyebabkan gangguan fungsi inteligensia dalam kemampuan abstraksi, logika analisis dan kreativitas. Anak-anak ini akan mengalami kesulitan dalam berbagai mata pelajaran yang menggunakan kemampuan analisa dan pemecahan masalah (de Groot & Paagman, 2000, Crealock & Kronick,1993, Levine, 2002). Sehingga bisa dibayangkan bahwa sekalipun anak-anak penyandang PDDNOS ini merupakan spektrum autisme yang paling ringan, namun ia mempunyai gangguan yang parah karena mempunyai defisit dalam area inteligensia yang cukup luas.

Continue to part 2….