GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 2)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Sebaliknya Stanley I Greenspan (1998 a), yang pernah menjabat sebagai direktur lembaga autisme University of Washington, melaporkan bahwa, dalam observasinya terhadap 200 anak-anak yang mendapat diagnosa gangguan perkembangan autisme (PDD/PDDNOS) sekalipun tidak sejelas seperti apa yang diterangkan oleh Kanner tetapi sudah nampak di usianya yang ke satu, dan ke dua, atau ke tiga, namun di usia setelah itu setiap anak akan berkembang dengan keunikannya masing-masing, bahkan sangat komunikatif (menggunakan kalimat yang kompleks dan adaptif), kreatif, hangat, penuh rasa cinta, dan gembira. Mereka duduk di sekolah-sekolah umum, berprestasi dalam kegiatan belajar, menyenangi persahabatan, dan terutama sangat imajinatif dalam bermain (Greenspan, 1998a). Melihat keadaan ini maka Greenspan lebih cenderung untuk mengusulkan menggunakan terminologi MSDD (Multisystem Development Disorder).

Sementara itu kriteria MSDD sendiri yang merupakan kriteria yang terbuka (yang mengakui bahwa kelaknya diantara anak-anak yang mempunyai symptom autistik ini akan keluar dari kriteria) dapat diartikan mempunyai spektrum yang panjang yang dimulai dari kelompok anak autistik tipikal/autisme klasik hingga non-autistik PDD. Namun MSDD ini bukanlah subtreshold kriteria autisme, kriteria MSDD adalah kriteria itu sendiri, dan tidak juga dapat untuk membedakan antara anak-anak yang memang penyandang autisme dan anak-anak yang mempunyai gangguan perkembangan lainnya (Buitelaar & van der Gaag, 1998).

Kembali pada pernyataan van Vugt-van de Moosdijk (2002) yang adalah seorang orthopedagog pada sekolah lanjutan luar biasa Belanda (voorgezet special onderwijs), melaporkan bahwa ia seringkali menerima murid-murid yang ternyata mengalami kesalahan diagnosa, yang tentu saja akan berpengaruh pada metoda pendidikan yang harus diberikan padanya. Anak-anak yang dikirim padanya lebih banyak untuk mengatasi masalah yang disandang anak tersebut. Terbanyak adalah anak-anak dengan diagnosa ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan autisme. Dalam pengamatannya itu ia melihat, bahwa jika anak-anak itu hanya diberi penanganan untuk mengatasi gangguannya, umumnya keadaannya bukan malah membaik, tetapi justru malah lebih memburuk dan menimbulkan masalah sosial emosinal yang lebih parah. Hal ini sering terjadi pada anak-anak dan balita gifted yang mempunyai juga gejala autisme. Masa-masa ketegangan dan rasa takut yang disebabkan misalnya karena ketidak pastian dan perubahan-perubahan yang tidak dijelaskan terlebih dahulu, hal ini semua bisa menyebabkan jatuhnya ia ke dalam perilaku mundur yang sangat kekanakan.Di sisi lain anak-anak berinteligensia tinggi dengan Asperger syndrom seringkali memang mendapatkan bantuan dengan cara memberinya kemungkinan pada dunia yang teratur dan bisa diprediksi, tetapi seringkali juga perkembangan inteligensianya dilupakan. Dengan begitu pengurangan ketegangan hanya sebagian saja. Sehingga pada suatu saat jika ternyata ada bagian dari terapi yang gagal, maka ketegangannya akan kembali mencuat. Perilakunya kembali mundur (van Vugt- van de Moosdijk, 2002).Padahal Greenspan (1998b) menjelaskan bahwa anak-anak yang masa kecilnya mempunyai beberapa symptom autisme namun setelah besar menunjukkan prestasi yang sangat baik itu, adalah anak-anak yang mempunyai dorongan internal yang sangat kuat untuk mengembangkan intelektualistasnya. Bila dorongan internal yang sangat kuat ini terhambat, hal ini hanya akan menimbulkan permasalahan baru lainnya.

Melihat masalah anak gifted yang kini banyak terdiagnosa berbagai gangguan perilaku, mental, dan perkembangan ini, demi kepentingan pengasuhan, bimbingan dan pendidikan baginya sebaiknya anak-anak ini sejak dini perlu dideteksi agar kepadanya dapat diberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhannya. Namun terdapat kesulitan sampai saat ini belum ada tes dari ilmu psikologi yang mampu mendeteksinya. Tes keberbakatan baru bisa dilakukan dan hasilnya dapat dipercaya setelah anak itu berusia di atas 6 tahun (Resing & Drenth, 2001). Karena anak-anak ini mendapatkan berbagai diagnosa gangguan ini, banyak diantara anak-anak ini tidak diterima di sekolah-sekolah umum, dianjurkan ke SLB, atau bahkan hanya di rumah-rumah terapi autisme tidak mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan tidak sekolah. Anak-anak ini menjadi tidak terarah. Bimbingan kepada orang tua yang kebingungan juga sangat minim.

Anak-anak ini bukan hanya terdiagnosa sebagai autisme, namun anak-anak ini juga cocok dengan berbagai gejala gangguan mental lainnya seperti ADHD, ADD, ODD, bi-polar/ mania-depresif, schizofrenia dan retardasi mental. Sehingga tidak jarang ada seorang anak yang menerima berbagai diagnosa dari diagnotician yang berbeda.

Ambil contoh salah satu anggota kelompok kami, saat anak ini berusia tiga tahun, ia menerima diagnosa autisme. Saat ia berusia empat tahun dan sudah mampu berbicara ia menerima diagnosa ADHD. Waktu anak ini akan memasuki usia SD, fihak sekolah menuntut adanya test IQ, karena kemampuan verbalnya masih tertinggal maka skor yang diterima adalah 70 dan dinyatakan mental retarded, maka dokter mengganti diagnosa menjadi brain injury dan ADD (karena sudah tidak hiperaktif lagi). Dianjurkan masuk sekolah luar biasa. Orang tua menolak, dan mencoba mencari sekolah dasar tanpa menceritakan latar belakang kondisi anak. Saat anak itu di sekolah dasar dapat berpretasi dengan baik dan tidak mengalami learning disablities (gangguan belajar seperti disleksia, disgrafia, dan diskalkulia) sebagaimana yang biasa dialami anak-anak yang mengalami brain injury dan ber IQ rendah.

Continue to part 3….