GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 3)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Part 3

Sementara itu, autisme yang merupakan long live disabilities di masyarakat luas kini timbul pengertian bahwa ada kelompok autisme yang bisa sembuh atau disembuhkan dengan pengobatan. Dan anak-anak yang keluar dari kriteria autisme dimanfaatkan oleh fihak tertentu sebagai testemonial untuk menunjukkan keberhasilan terapi.

Sampai kini, melihat sulitnya membedakan antara autisme, autistik PDD, dan non-autistik PDD, terlebih pada anak-anak batita, maka banyak kalangan mengatakan bahwa apapun anak itu kelak jadinya jika anak itu menunjukkan symptom autisme maka sebaiknya diterapi saja sebagaimana autisme, daripada menunggu sampai anak itu berusia di atas tiga, empat atau lima tahun, jika ternyata memang autisme bisa jadi justru hal ini akan menyebabkan keterlambatan. Dengan asumsi bahwa, anak yang memang kelaknya akan keluar dari kriteria autisme dengan diterapi menggunakan metoda terapi autisme, akan keluar juga dari autismenya. Pernyataan spekulatif ini menyebabkan para orang tua justru menjadi panik dan segera mencari terapi yang tidak terarah. Lebih ironis berbagai media justru menyajikan tawaran pengobatan yang memberikan harapan. Sementara itu, berbagai terapi autisme yang populer saat ini masih merupakan terapi yang tidak pernah mempunyai latar belakang penelitian ilmiah yang dapat dipercaya, seperti yang disebutkan oleh Herbet (2002), van der Sijde (2002), Honstra (2003) yaitu : sensory-motor therapy (Auditory Integration Therapy, Sensory Integration), Holding threrapy, Option Therapy, Biomedical Treatment (secretin, Vitamin B dan magnesium, diet bebas gluten dan casein, Dimethylglycin), terapi jamur kandida, Applied Behaviour Analysis (ABA), dan TEACCH. Berbagai terapi ini hanya dilatar belakangi dengan testemonial. Terapinya semakin semarak saat berbagai terapi alternatif tradisional maupun moderen dari dalam maupun dari luar negeri turut meramaikan pasaran seperti : senam otak (Brain Gym),craniosacral therapy, akupuntur, biofeedback, chi-kung, prana, reiki, terapi lumba-lumba, pembaluran dengan protein, garam epsom, dan sebagainya.

Sebaliknya, potensi keberbakatan pada anak-anak balita kelompok ini justru seringkali tidak nampak, tertutupi oleh masalah dan kesulitan perkembangan yang disandangnya, karena itu lebih banyak orang tua yang menolak jika dinyatakan bahwa kemungkinan anaknya adalah balita gifted. Hal ini juga berkaitan dengan masalah budaya yang malu jika mengakui mempunyai anak gifted atau anak berbakat. Oleh berbagai profesi dan fihak sekolah, potensi keberbakatan pada anak-anak kelompok seperti ini juga seringkali diremehkan, hanya dilihat permasalahan yang ditampilkannya belaka. Tidak jarang juga terjadi kecurigaan terhadap fihak orang tua, dikhawatirkan jika orang tua mengetahui bahwa anaknya adalah anak berbakat, maka para orang tua akan melalaikan menangani masalah anaknya. Sistem referal juga belum berjalan, sehingga tidak ada referal dari bidang kesehatan ke psikologi atau orthopedagogi yang bidang kajiannya pada perkembangan anak berbakat. Para orang tua yang curiga terhadap ‘kebolehan’ anaknya justru yang sering berusaha sendiri mencari-cari opini lain.

Diagnosanya sering berganti-ganti, terapi dan medikamentosa pun berganti-ganti. Umumnya saat anak ini di bawah tiga tahun saat belum berbicara ia terdiagnosa autisme, saat sudah mampu berbicara terdiagnosa ADHD, namun saat usia 6 tahun dan sudah tidak hiperaktif lagi terdiagnosa ADD, jika sudah berprestasi terdiagnosa Autisme Asperger. Bagaimana bisa begini?

Pada umumnya mereka adalah anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara, sebagaimana Greenspan (1995) yang mengidentifikasi anak-anak ini mengalami gangguan processing auditive dan memiliki logika analisis yang tinggi, Sword (2002) juga menyebutnya sebagai anak Gifted with Centrum Auditory Processing Disorder (CAPD). Linda Silverman ( 1997,1998 ) menyebutnya sebagai Gifted Visuo-Spatial Learner. Secara populer kelompok anak ini sering juga disebut Einstein Syndrom (Sowel, 2001) . Anak-anak ini sering juga terdiagnosa ADHD, karena banyak gerak, dan sangat mudah beralih perhatian atau tersasar ke kegiatan lain sehingga nampak bagai anak bergangguan konsentrasi (Greenspan, 1995; Nijenhuis, 2003). Namun symptom ADHD haruslah ditunjukkan pada semua setting (Gunning, 1998). Sedang anak-anak ini mempunyai periode yang berubah-ubah, nampak tidak bisa berkonsentrasi tetapi ada periode ia berkonsentrasi sangat intensif dan introvert (Silverman, 1998). Dan menurut Gunning (1998) pula, pada diri seseorang tidak bisa ada dua kepribadian sekaligus, yaitu introvert sebagaimana halnya autisme, sekaligus juga extrovert sebagaimana ADHD.

Menegakkan diagnosa CAPD ini juga tidak mudah, karena salah satu kondisi yang menentukan bahwa anak ini mengalami CAPD adalah apabila si anak memiliki perkembangan inteligensia yang baik. Namun di Indonesia belum ada alat ukur yang cocok untuk anak Indonesia yang dapat digunakan oleh dokter tumbuh kembang sebagai alat ukur pemantau berkala perkembangan kognitif seorang anak, dimana seorang dokter anak tumbuh kembang dengan hasil pemantauan perkembangan kognitif itu dapat memperkirakan diagnosa gangguan perkembangan bicara ini kearah mana.

Memberikan terapi pada anak-anak gifted yang mengalami perkembangan disinkroni ini tentunya tidak bisa disamakan dengan memberikan terapi pada anak autisme, ataupun ADHD, karena psiko-neurobiologisnya dan prognosanya memang berbeda. Mengingat prevalensi penderita CAPD cukup tinggi yaitu 2 – 3 persen dari anak yang lahir (Chermak & Musiek, 1999), dimana anak-anak itu mempunyai spatial ability dan logika analisis yang baik sebagaimana karakteristik anak gifted, maka kiranya pula para audiolog dan ahli THT diharapkan turut berperan secara aktif dalam deteksi dini ini. Sedang anak berbakat yang tidak mampu berprestasi karena masalah disinkroni dan tidak cocoknya metoda pendidikan baginya adalah setengah dari populasi anak berbakat yaitu setengah dari jumlah 3 – 5 persen dari anak yang lahir (Hoop & Janson, 1999, Nelissen & Span, 1999).

Jumlah ini merupakan anak yang mempunyai prognosa sangat baik namun mempunyai resiko mendapatkan salah diagnosa yang justru sangat tidak menguntungkan.

Continue to part 4 ….