GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 5)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Part 5

3. MENGENALI ANAK & BALITA BERBAKAT

Kelompok kami (para orang tua anak berbakat), mempunyai anak balita dan anak-anak yang lebih besar berbakat (terlebih mereka yang merupakan anak berbakat luar biasa), umumnya mengalami kefrustrasian dan keputus-asaan menghadapi perilaku anaknya, begitu pula gurunya. Ketidak mengertian akan perilaku yang dianggapnya menyimpang dari pola normal menyebabkan para orang tua dan guru berfikir kearah gangguan perilaku dan mental. Karena itu agar tidak terjadi kesalah mengertian terhadap anak-anak ini dibutuhkan pengetahuan yang luas untuk memahami berbagai aspek tumbuh kembang serta personalitasnya, yang tentu saja memerlukan bantuan dari berbagai ahli yang mempunyai perhatian pada anak-anak berbakat secara multidisiplin. Pemahaman ini bukan saja akan memberikan ketrampilan dalam tugas pengasuhan dan pendidikannya secara baik, dalam menghadapi masa balita yang penuh dengan gejolak tumbuh kembang yang berbeda dari anak lain pada umumnya ini, yang betul-betul melelahkan, menguras tenaga dan fikiran, tetapi juga pengetahuan yang luas ini, akan mampu menumbuhkan rasa kesabaran yang luar biasa bagi orang tua. Sering pula dibutuhkan family counceling karena sering terjadi ketidak samaan pendapat dalam memandang faktor kuat dan faktor lemah si anak yang tidak jarang menyebabkan percekcokan rumah tangga dan berakhir pada perceraian. Pengetahuan ini sangatlah penting karena masa balita adalah masa yang sangat rentan dalam tumbuh kembangnya, dan anak-anak ini tentu saja memerlukan lingkungan yang aman agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara sehat.

Dalam bidang anak berbakat, sering kita temui konsep disinkronitas perkembangan anak gifted. Konsep ini dimasukkan oleh seorang psikolog Perancis bernama Jean-Charles Terrasier di tahun 1970-an (de Hoop & Janson, 1999). Dari konsep ini kemudian tumbuhnya pengertian tentang ketidak sinkronan perkembangan anak-anak gifted yang kemudian berakibat dalam berbagai perkembangan perilaku yang menyimpang dari pola umum, sekaligus juga mengakibatkan berbagai prestasi yang tidak seimbang dari anak-anak ini dan berbuntut pada kefrustrasian, agresivitas, penarikan dan isolasi diri, pelepasan energi secara negatif, rendah diri, jatuhnya prestasi di sekolah, dan mudah tersinggung (Jurgens, 1991). Hal inilah yang menyebabkan potensi keberbakatannya menjadi tertutupi oleh masalah yang dimilikinya.

Berbagai kesulitan bermain dengan teman sebaya, bukan hanya karena anak-anak ini mempunyai seleksi permainan yang sangat tinggi, tetapi juga karena gaya berfikir yang berbeda (global dan perfeksionis), gerak motorik yang berbeda (van der Kolk-Wolthaar, 1997) tetapi juga anak-anak ini eigenwijs (mengikuti keinginan dirinya sendiri), dalam bermain bersama tidak mau dicampuri (Mooij, 1991).

Sementara itu kini di Belanda, pada anak-anak yang mempunyai perkembangan kognitif lebih maju daripada anak-anak lain (sekalipun mempunyai ketertinggalan di beberapa domain perkembangan yang disebabkan tidak sinkronnya perkembangan itu) lebih dikenal dengan istilah kinderen met ontwikkeling voorsprong yang artinya anak yang mengalami loncatan perkembangan (de Bruin-de Boer & de Greef, 1991, van Gerven, 2001). Pelacakan anak-anak yang mengalami loncatan perkembangan ini dilakukan oleh para dokter anak tumbuh kembang di konsultasi biro (semacam BKIA di Indonesia) dengan menggunakan status van Wiechen. Status ini telah digunakan beberapa tahun terakhir ini dan telah dipakai bagi seluruh balita Belanda, yang pelacakannya menggunakan kriteria 1) motorik halus, adaptasi, kepribadian dan perilaku sosial; 2) komunikasi; 3) motorik kasar. Termasuk juga pelacakan kemajuan kognisi (Stam, 2001).

Kepadanya juga tidak bisa dilakukan test inteligensia yang kemudian hasilnya dirata-ratakan (total skor IQ) karena justru hanya akan memberikan penafsiran yang keliru. Anak-anak ini akan menunjukkan profil IQ yang tidak harmonis, yang jika dirata-ratakan hanya akan menunjukkan bagai anak dengan IQ rendah. Sementara itu jika hanya melihat adanya deskrepansi antara verbal IQ dan performal IQ hanya akan menunjukkan bahwa anak ini bagai anak autisme (v/P atau deficit dalam kemampuan verbal). Karena itu dibutuhkan penafsiran hasil test yang lebih teliti dengan cara menginterpretasi setiap subtes secara lebih canggih ditambah dengan laporan kualitatif sebagai hasil pengamatan yang panjang.

Anak-anak ini sering juga disebut Twice Exceptional Gifted (anak gifted dengan keistimewaan ganda) atau kadang disebut juga Gifted with Learning Disable (anak gifted dengan gangguan belajar). Sekalipun dalam berbagai tes inteligensia menunjukkan profil verbal dan performal yang tidak harmonis ternyata bukan berarti kemudian anak ini kelaknya akan mengalami learning disabilities (kesulitan belajar seperti disleksia, diskalkulia, disgrafia). Hasil penelitian di banyak negara di tahun-tahun terakhir ini, misalnya saja yang dilakukan oleh Judith Reuver (2004) menunjukkan bahwa anak-anak yang mempunyai profil tidak harmonis itu belum tentu akan menyebabkan learning disabilities. Sedang kesulitan membaca, mengeja, berhitung, dan menghapal lebih banyak disebabkan karena gaya berfikirnya yang simultan dan global (gestalt) yang disebabkan karena ia adalah seorang anak yang visual learner. Silverman (1997,1998 ) menyebutnya sebagai gifted visuo-spatial learner. Gaya berfikir yang gestalt ini tidak sesuai dengan metoda konvensional pendidikan di sekolah yang menuntut setiap anak untuk bisa menerima pelajaran dengan gaya berfikir sekuensial (Silverman, 1997 ). Tuntutan yang berbeda dengan gaya berfikirnya inilah yang menyebabkan anak-anak ini tidak mampu menyesuaikan diri, tertekan, dan berakibat pada nampak seperti anak gangguan konsentrasi, tidak berprestasi, atau menarik diri, dan berakibat terdiagnosa sebagai penyandang ADHD atau Autisme.

Anak-anak ini juga sering menunjukkan seolah mempunyai kreativitas yang rendah, namun yang terjadi adalah potensi kreatif yang tinggi ini tertutupi oleh perkembangan faalangst negatif yang besar (perasaan merasa tidak bisa padahal sesungguhnya bisa) suatu kondisi yang sering menyertai anak-anak berbakat, terutama anak berbakat muda . Faalangst lebih sering diakibatkan oleh adanya karaketeristik perfeksionis yang dimiliki oleh individu gifted (Overbeek, 2001).

Karakteristik perfeksionis dan kreativitas yang sangat tinggi justru menyebabkan masalah yang kemudian memberikan gambaran seolah mempunyai gangguan perkembangan perilaku. Perfeksionismenya menyebabkan ia melakukan seleksi permainan yang sangat khas dan variasi yang sempit, tetapi kreativitasnya menyebabkan ia selalu mencari cari hal yang sesuai dengan pilihannya. Dengan kata lain perfeksionis mengarah pada konvergensi, dan kreativitas mengarah pada divergensi perilaku. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi seperti anak yang bergangguan konsentrasi, ditambah lagi dengan masalah sensomotoris yang berkembang hebat (Monks & Knoers, 1999).

Continue to part 6…