Updates from May, 2008 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • yudhaarga 7:25 am on May 14, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 11) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    Beberapa waktu lalu, anak-anak gifted kelompok ini juga diberi istilah gifted with learning disability tetapi penelitian terakhir menunjukkan bahwa anak-anak gifted yang mengalami keterlambatan bicara sekalipun dengan deskrepansi IQ verbal dan performal IQ melebihi 10 point, namun kondisi ini belum tentu akan mengalami learning disabilities (Reuver, 2004). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rigo dkk (1998) terhadap kelompok low achievement gifted student (yang terdiri dari viuso-spatial gifted student) dan learning disabilities gifted student, menunjukkan bahwa memang keduanya mempunyai gangguan dalam auditory processing namun memiliki bentuk CAPD yang berbeda.

    Gangguan CAPD ini dapat dilihat dari gejala-gejala sebagai berikut yang oleh Karin Nijenhuis (2003) dari UMC Radbout afd. KNO/audilogisch centrum, Nijmegen, disusunnya dalam buku kecilnya berjudul Kinderen met Luisterproblemen (anak-anak dengan gangguan pendengaran).
    Gejala gangguan pengertian:

    • si anak sering mengatakan: ‘huh’ atau “apa?”
    • si anak tidak bisa mengerti dengan baik bila dilatarbelakangi dengan banyak bunyian (pada pesta, di lapangan sekolah, di kolam renang). Hal ini berlawanan dengan bila di situasi sepi, dimana anak itu dapat mengerti semuanya ;
    • perintah mondeling sangat sulit difahami, terutama jika perintahnya panjang dan rumit ;
    • seringkali juga mengalami salah pengertian : diskriminasi auditive-nya lemah ;
    • anak tersebut memerlukan waktu lebih lama untuk mencari apa yang harus dikatakan karena itu juga membutuhkan pemberian pertanyaan berulang-ulang ;
    • mengalami kesulitan untuk mempertahankan informasi mondeling (problem memori) ; informasi mondeling seringkali lebih cepat dilupakan ; tetapi informasi tulisan akan lebih baik diingatnya ;
    • saat komunikasi dua arah, perhatiannya seringkali cepat kesasar ke tempat lain, misalnya di rumah saat makan bersama ;
    • ia memberikan jawaban yang tak memadai terhadap pertanyaan yang diajukan padanya, jawaban seolah tak cocok dengan pertanyaan ;
    • seringkali ucapan/perintah diabaikannya karena ia tak mampu menerima perintah itu ;
    • reaksi terhadap ucapan atau pembicaraan sering berubah-ubah, kadang ia bereaksi secara pas, kadang tidak, tergantung dari moednya ;
    • seringkali ia memberikan jawaban sebelum pertanyaan yang rumit selesai, karena itu ia sering salah menjawab atau kehilangan jawaban pada bagian akhir pertanyaan ;
    • perintah mondeling lebih buruk hasilnya daripada perintah tertulis, anak-anak ini lebih kearah visual daripada auditif;
    • jika informasi/perintah diberikan selintasan saja, maka informasi/perintah itu akan buruk diterimanya.

    continue…

    Advertisements
     
  • yudhaarga 7:19 am on May 13, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 10) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    Peter Vermuelen, seorang orthopedagog yang menspesialisasikan diri pada autisme ber IQ tinggi dan bekerja pada Dinas Austisme Belgia, dalam bukunya Dialogica (2004) banyak menjelaskan tentang memori visual ini yang disebutnya sebagai memori fotografis, yaitu kemampuan seseorang yang mampu meregistrasi secara detil apa yang dilihatnya, dan menyimpannya dalam memorinya. Kedua kelompok Gifted visuo-spatial Learner dan autisme dengan IQ tinggi (Asperger) atau beberapa autisme klasik mempunyai kesamaan yaitu antara lain mempunyai kemampuan ini, namun terdapat beberapa perbedaan jika dilihat pada hasil karya gambar-gambar yang dihasilkan kedua kelompok tersebut. Dalam berbagai bukunya, Peter Vermuelen banyak mengkritik kekeliruan kesimpulan yang hanya melihat dari sisi kemampuan fotografis tersebut. Misalnya van Gogh atau Picasso seorang pelukis berbakat luar biasa yang kreatif sering diberitakan sebagai penyandang autisme. Atau sebaliknya Nadia seorang autis savant yang idiot namun mempunyai kemampuan memori fotografis dan mampu menuangkan dalam bentuk lukisan sekalipun terfiksasi pada figur kuda namun mempunyai kualitas yang sangat baik, oleh Howard Gardner (psikolog Amerika yang terkenal dengan konsep Multiple Intelligence yang di pasaran menimbulkan terjadinya miskonsepsi apa yang disebut dengan anak gifted dan membanjirnya konsep anak bertalenta) disebutnya sebagai the island of giftedness dan menyebut Nadia sebagai anak berbakat jenius, yang kemudian menimbulkan miskonsepsi bahwa seabnormalnya seseorang ia mempunyai bakat jenius. Kesimpulan ini menurut Vermuelen adalah kesimpulan yang keliru, karena pada gambar tersebut harus lagi dilihat beberapa aspek yang membedakan antara karya gambar seorang penyandang autis dan non-autis.

    (More …)

     
  • yudhaarga 6:53 am on May 12, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , dunia kerja   

    Memancing Kreativitas 

    Berapa kali Anda merasa otak tiba-tiba kosong dan tidak tahu harus melakukan apa, yang sialnya selalu terjadi saat Anda dikejar deadline laporan yang harus diberikan pada atasan? Bukan hanya itu, Anda tidak bisa menulis apa-apa karena tidak ada bayangan apa yang harus ditulis, sehingga hanya mampu menatap kertas kosong dengan perasaan tak berdaya. Ups, jangan panik dulu. Ini kukan pertanda Anda mulai pikun (dan percaya deh, Anda tidak mengidap penyakit Alzheimer yang menyerang secara mendadak). Bisa jadi, hal ini disebabkan karena Anda harus mulai menyesuaikan diri dengan keadaan baru tersebut.
    Jadi bagi Anda yang mungkin saat ini sedang pusing karena terlalu sibuk, istirahat dulu sebentar dan simak artikel berikut. Siapa tahu akan membantu.

    1. Lakukan pada waktu yang tepat
    Kebanyakan orang yang telah berumur berpikir lebih jernih pada pagi hari; sedangkan mereka yang lebih muda, pada siang hari. Temukan kapan waktu Anda yang tepat, dan selesaikan masalah-masalah yang memerlukan pemikiran di waktu-waktu tersebut.

    2. Pendidikan tinggi — namun jangan terlalu berlebihan
    Pendidikan sekolah memiliki pengaruh besar dalam memupuk kreativitas seseorang terutama pada masa-masa akhir kuliah, namun penaruh tersebut mulai menurun setelah lulus. Pendidikan memang sangat penting, namun hal itu tidak menjamin kesuksesan Anda di bidang tersebut (alias banyak hal-hal lain yang harus diperhatikan).

    3. Mengikuti nasehat Konfusius
    salah satu petunjuk mengingat yang selalu digunakan oleh para ahli yang melakukan penelitian tentang ingatan : Supaya tidak lupa bila ada hal penting, tulis di secarik kertas. Sebagaimana kata pepatah Cina, tulisan yang tintanya tidak jelas bertahan lebih lama daripada ingatan paling kuat sekalipun.

    4. Tampil bersemangat dengan doping
    Penelitian menunjukkan kadar kafein dalam secangkir kopi dapat membantu kita berkonsentrasi terhadap sesuatu hal dengan lebih baik. Namun bagi Anda yang rentan atau mudah terkena depresi, sebaiknya jauhkan diri dari sentuhan kopi karena akan berakibat buruk bagi sel-sel otak.
    (More …)

     
    • MASDRAGON 7:58 am on January 11, 2009 Permalink | Reply

      ya mas,memang fokus sangat diperlukan bauta semua orang yang pingin sukses di bidan yang di geluti, dan semangat juga syarat yang mutlak di penuhi.

  • yudhaarga 7:59 am on May 10, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 9) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    GIFTED VISUO-SPATIAL LEARNER

    Umumnya kita mengenal perkembangan bicara anak-anak gifted mempunyai perkembangan yang harmonis, dengan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa yang sangat baik. Sehingga berbagai subtes IQ-nya menunjukkan keharmonisan serta di usia dini sudah dapat dikenali bahwa ia memiliki skor IQ yang tinggi.

    Namun tidak demikian, akhir-akhir ini dikenal berbagai tipe anak gifted lainnya yang sampai saat ini di Indonesia masih belum populer.

    Antara lain salah satu tipe yang sering dibahas oleh Linda Silverman (1997, 1998), direktur Gifted Development Center Amerika, menyebut anak-anak ini dengan sebutan Gifted Visuo-spatial Learner. Psikolog umumnya menyebutnya “poor listening comprehension” atau “difficulty following oral direction

    Pada anak-anak gifted ini sekalipun mengalami keterlambatan perkembangan bicara karena gangguan pada auditory processing, namun kondisi ini belum tentu kelaknya akan mengalami gangguan perkembangan kemampuan berbahasa dengan profil IQ verbal yang rendah (Rigo dkk, 1998). Begitu pula menurut Greenspan (1995, 1997) dalam pengamatannya, bahwa anak-anak ini setelah dewasa mampu menggunakan bahasa yang sangat luas dengan jumlah vokabulari yang besar. Seperti halnya yang dijelaskan oleh de Hoop & Janson (1999) bahwa anak-anak ini mempunyai pola tumbuh kembang sendiri, yang tidak sama dengan anak-anak pada umumnya. Pola tumbuh kembangnya dengan skala yang besar, waktunya singkat, tetapi tidak sinkron.

    (More …)

     
  • yudhaarga 7:49 am on May 9, 2008 Permalink | Reply
    Tags: believe, , secret   

    Don’t Believe Yourself too much 

    Believing in yourself means thinking you are a capable person, not that you will never make a mistake. Don’t think that because you are a talented person you cannot learn from others or you should never be criticized or others want to know how highly you think of yourself.

    A very rich fellow ran for governor of a Southern state not too long ago. He didn’t like taking directions from people. He was, after all, his own man. He had become very successful on his own, and he thought there was nothing useful anyone could teach him because he already knew everything he needed to know.
    Two things came out of this belief. One, people felt that he was full of himself, disagreeable, and not someone they particularly liked or trusted. And, two, when during a debate televised statewide he didn’t know the answer to how the state passed a budget, people felt like his pompous image was a phony mask
    covering up for the fact that he really wasn’t that capable. This man didn’t become governor or senator or anything else he ran for. He told people he was too capable to listen and learn. The people told him he was just incapable of listening and learning

    Source : David Niven Phd. The 100 Simple Secret of Happy People. 2000

     
  • yudhaarga 7:55 am on May 8, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 8) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    Mooij (1992) mengutip Freeman (1983) Heinbokel (1988) dan Laycock (1957) tentang gejala anak-anak gifted sejak bayi yaitu :

    seringkali lahir sebagai bayi besar dan berat

    sering menunjukkan bunyi-bunyian (menangis, membuat bunyi-bunyian)

    banyak gerak dan hidup, mempunyai banyak enerji

    sangat dini sudah menginginkan dan dapat mengangkat kepala

    menunjukkan perhatian yang besar dan ingin melihat segala sesuatu

    sangat tidak sabaran dan selalu tegang

    sangat dini sudah mempunyai kontak mata

    menginginkan penerapan segera apa yang diketahuinya, atau sibuk menerapkan ke suatu tujuan, semuanya itu atas kebutuhan dorongan motivasi internalnya, dan tidak bisa digantikan karena adanya pujian, penghargaan, atau hadiah

    (More …)

     
  • yudhaarga 7:38 am on May 7, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , positive thinking   

    If you’re not sure, guest positively 

    Unhappy people take a situation in which they are not sure and come to a negative conclusion. For example, if they aren’t certain why another person is being nice, they assume that the person must have a hidden selfish agenda. Happy people take that same situation and guess the positive possibility, that is, that the person really is nice.

    Henry is a seventy-year-old man who always had a good word for his neighbors. He lived modestly in Arkansas in a small home with only a wood stove for heat. Over the years, Henry watched his home deteriorate steadily. But he was too old and had too little money to fix it up. One of his neighbors organized a group to virtually rebuild Henry’s house, giving it modern heat and plumbing. Henry was stunned by this. Why were all these people taking such an interest in him, in his house? He initially wondered, What did they stand to gain? Were they trying to change his house so that it would make their houses worth more?

    Any situation can be viewed as an act of selfishness, if that’s how you want to view it. Taking this perspective makes us cold,critical, and cynical. And there’s no way out of it, because a person
    we view negatively cannot do anything to improve our impression of them. We need to consider that our perspective on what motivates people can either be a source of comfort to us or a source of alarm.
    Henry’s ultimate conclusion: “These were just good peopledoing a good thing, and I thank them for it.”

    Source : David Niven Phd. The 100 Simple Secret of Happy People. 2000

     
  • yudhaarga 7:25 am on May 6, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , hiperaktif,   

    BEKALI ANAK HIPERAKTIF SEJAK DARI RUMAH 

    Contributed by Dra. Adriana S. Ginanjar, MS – Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

    GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas) sering kali tidak disadari orang tua, dan baru tampak nyata setelah anak masuk sekolah. Mendeteksi dan menanganinya sejak dini akan menentukan masa depan si anak. Semua tentu berawal dari rumah. Setelah deteksi masalah anak secara dini, orang tua perlu mencari informasi tentang penanganan GPPH. Menjalin hubungan dengan sesama orang tua yang punya masalah sama sangat membantu mendapatkan info tentang penanganan yang tepat, rujukan tempat terapi, dan sekolah yang sesuai untuk anak. Karena anak GPPH biasanya memerlukan dokter anak, psikolog, psikiater, guru, dan terapis, orang tua punya peranan memilih tim yang dirasa paling pas untuk anaknya.

    Juga yang terpenting, dari rumahlah anak dibekali pemahaman tentang kondisinya agar ia tak menilai dirinya sebagai anak bodoh, selalu gagal, atau merasa tak disayang oleh keluarga. Memang tak mudah menangani anak GPPH di rumah. Orang tua tak hanya dituntut belajar berbagai strategi mengatur tingkah laku, juga perlu kerja keras, konsistensi, dan kesabaran. Sebab, terkadang cara disiplin yang sukses untuk anak lain tak bisa diberlakukan pada anak istimewa ini. Strategi apa yang secara umum terbukti berhasil?
    (More …)

     
  • yudhaarga 6:37 am on May 5, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , indigo,   

    Mungkinkah ia indigo ? 

    Belum genap dua tahun, batita Anda sudah lancar bicara dan kadang malah terkesan sok tahu. Anehnya, Anda kerap memergokinya sedang bicara sendiri. Apakah ada yang salah dengan dirinya?
    Pernahkah Anda bertanya-tanya tentang perilaku si kecil yang “lain” itu? Kadang-kadang perilaku anak Anda terlihat seperti gejala autisme. Kali lain, ia tampak cepat bosan pada mainannya. Waktu berikutnya, ia mengaku melihat hantu, atau meramalkan masa depan seperti seorang cenayang. Coba amati lagi lebih dekat. Mungkinkah si kecil termasuk anak indigo.

    Menurut Lee Carroll dan Jan Tober, penulis buku The Indigo Children: The New Kids Have Arrived, anak indigo adalah anak yang memiliki karakteristik psikologis yang baru dan tidak biasa serta menunjukkan
    pola perilaku yang secara umum belum pernah tercatat. Pola perilaku yang unik ini bisa menimbulkan frustasi pada diri si anak. Untuk mencegahnya, anak indigo membutuhkan perhatian khusus dari orang tua dan guru agar ia dapat mencapai keseimbangan dan harmoni.

    Anak Indigo vs Anak Spesial Lainnya

    Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp. KJ (K) menjelaskan, asal mula seorang anak disebut Indigo adalah, saat seorang anak dalam keadaan sehat, aura yang terpancar dari dirinya berwarna biru keunguan (dalam bahasa Spanyol disebut indigo). Setiap generasi memang memiliki warna dominan yang berbeda, dan anak-anak dengan warna aura indigo adalah hasil evolusi generasi manusia dari warna aura biru menuju ungu. Anak-anak beraura warna indigo ini paling banyak lahir pada tahun 2000-an. Warna aura indigo adalah peralihan dari aura biru ke ungu. Warna aura biru melambangkan rasio atau nalar sedangkan ungu melambangkan spiritualitas. Kombinasi inilah yang menjelaskan mengapa anak indigo memiliki dua atribut utama, yakni kecerdasan dan juga kemampuan spiritual yang tinggi. Jadi apabila Anda melihat balita Anda berdaya tangkap cepat dan memiliki empati yang tinggi terhadap sekelilingnya, coba ajak ke psikolog atau psikiater anak untuk memeriksa lebih jauh apakah si kecil Anda memang indigo. “Anak indigo tidak sama dengan anak dengan ADD/ADHD yang mudah bosan atau tidak bertahan lama dalam mengerjakan sesuatu. Bila anak indigo melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat menyelesaikannya sebelum beralih pada kegiatan lain. Dari luar, kecepatan peralihan ini terlihat mirip ADD/ADHD. Selain itu, anak indigo yang aktif tidak bersifat destruktif seperti anak dengan ADD/ADHD,” kata Dr. Erwin menjelaskan. Masih menurut Dr. Erwin, anak indigo kerap dikira anak autis karena mereka kadang suka berbicara sendiri. Padahal, anak indigo yang dikira sedang berbicara sendiri, bisa jadi sedang berkontemplasi atau berkomunikasi dengan makhluk halus. Perbedaan anak indigo dengan anak autis adalah cara mereka berinteraksi. Tidak seperti anak autis, anak indigo dapat berbicara secara konsisten dan teratur. Anak indigo juga bisa bersosialisasi, hanya saja anak indigo merasa lebih cocok dengan orang yang lebih rasional dan spiritual. Selain autisme dan ADD/ADHD, masyarakat juga sering menyalahartikan anak indigo dengan paranormal atau cenayang. Berdasarkan penjelasan Dr. Erwin, anak indigo memang memiliki kemampuan extra-sensory perception (ESP) yang dapat melihat makhluk halus atau melihat masa lalu atau masa depan, tetapi hal ini hanya satu dari banyak sekali karakter anak indigo. Anak indigo memiliki kecerdasan rasio yang tinggi, sedangkan paranormal atau cenayang belum tentu cerdas.
    (More …)

     
    • ixe rahmawati 12:50 pm on October 18, 2009 Permalink | Reply

      salam sejahterah
      anak indigo….mungngkinkah anak indigo itu adalh anak yang misterius
      aku ingi sekali menelitinya

  • yudhaarga 4:43 am on May 4, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    REASONS FOR CAREER SWITCHING 

    The reasons for wanting to switch careers range from the practical to the idealistic. Most likely your list will include many of these factors:

    • You have a chance to escape a fast-lane urban lifestyle.
    • Your job and career no longer interest you; maybe they bore you.
    • The idea of 20 more years in the same career has lost its appeal.
    • You would like to work in a different part of the country.
    • You’ve been downsized, fired, canned, pinked-slipped, or whatever you—and your former employer—want to call it.
    • You see little room for future growth in your current career.
    • You feel a “calling” to do something else in life.
    (More …)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel