GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 9)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

GIFTED VISUO-SPATIAL LEARNER

Umumnya kita mengenal perkembangan bicara anak-anak gifted mempunyai perkembangan yang harmonis, dengan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa yang sangat baik. Sehingga berbagai subtes IQ-nya menunjukkan keharmonisan serta di usia dini sudah dapat dikenali bahwa ia memiliki skor IQ yang tinggi.

Namun tidak demikian, akhir-akhir ini dikenal berbagai tipe anak gifted lainnya yang sampai saat ini di Indonesia masih belum populer.

Antara lain salah satu tipe yang sering dibahas oleh Linda Silverman (1997, 1998), direktur Gifted Development Center Amerika, menyebut anak-anak ini dengan sebutan Gifted Visuo-spatial Learner. Psikolog umumnya menyebutnya “poor listening comprehension” atau “difficulty following oral direction

Pada anak-anak gifted ini sekalipun mengalami keterlambatan perkembangan bicara karena gangguan pada auditory processing, namun kondisi ini belum tentu kelaknya akan mengalami gangguan perkembangan kemampuan berbahasa dengan profil IQ verbal yang rendah (Rigo dkk, 1998). Begitu pula menurut Greenspan (1995, 1997) dalam pengamatannya, bahwa anak-anak ini setelah dewasa mampu menggunakan bahasa yang sangat luas dengan jumlah vokabulari yang besar. Seperti halnya yang dijelaskan oleh de Hoop & Janson (1999) bahwa anak-anak ini mempunyai pola tumbuh kembang sendiri, yang tidak sama dengan anak-anak pada umumnya. Pola tumbuh kembangnya dengan skala yang besar, waktunya singkat, tetapi tidak sinkron.


Sering menjadi pertanyaan, mengapa anak-anak terlambat bicara ini justru menjadi anak-anak gifted, sementara jika melihat berbagai literatur lama, keterlambatan bicara merupakan salah satu indikator keterbelakangan mental. Stanley I Greenspan dalam bukunya The Growth of the Mind (1997) dan The Challanging Child (1995) menjelaskan bahwa gangguan auditory processing akan menyebabkan gangguan pada short term memory yang mengatur inteligensia rendah atau low order thinking system yaitu kemampuan identifikasi dan mengenal kembali kata-kata yang dipelajari. Tingkatan inteligensia ini pula yang mengatur percakapan sehari-hari. Gangguan perkembangan short term memory ini kemudian akan menyebabkan gangguan perkembangan bahasa dan bicara. Sementara itu pada anak-anak ini justru terjadi perkembangan long term memory dengan sangat baik. Long term memory ini yang mengatur high order thinking system, yaitu pemahaman, sintesa, generalisasi, problem solving, dan kreativitas. Mel Levine seorang Profesor pediatrik dari University of North Carolina Medical School dan direktur Clinical Center for the Study of Development and Learning, dalam bukunya A Mind at Time (2002) banyak memaparkan kasus-kasus yang terjadi pada pasien-pasien bimbingannya yang merupakan penyandang visuo-spatial learner namun mengalami kesulitan membaca. Kesulitan membaca ini disebabkan karena anak-anak visuo-spatial learner ini selalu mempelajari kata-kata, tulisan dan huruf-huruf seperti halnya melihat logo-logo. Sehingga tidak heran bila anak-anak ini sangat menyukai merek-merek mobil dan logo-logo iklan. Gaya membaca logo ini menyebabkan kesulitan saat ia harus belajar di sekolah untuk belajar membaca dan mengeja yang harus menggunakan kemampuan skuensial (low order thingking system) . Gaya berfikirnya yang global dan simultan (gestalt) ini menyebabkan anak-anak ini mengalami kesulitan dalam pelajaran menghapal yang membutuhkan kemampuan skuensial. Jika anak-anak lain membutuhkan penekanan pada pelajaran-pelajaran yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah, justru anak-anak ini memerlukan bimbingan ekstra pada pelajaran menghapal. Kondisi seperti ini belum bisa dikelompokkan sebagai learning disabilities atau handycapped., karena sifat gangguannya sementara. Dengan bimbingan yang sesuai ia akan segera mengejar ketertinggalannya. Sedang learning disabilities merupakan gangguan yang disandangnya seumur hidup.

Continue to part 10…