GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 10)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

Peter Vermuelen, seorang orthopedagog yang menspesialisasikan diri pada autisme ber IQ tinggi dan bekerja pada Dinas Austisme Belgia, dalam bukunya Dialogica (2004) banyak menjelaskan tentang memori visual ini yang disebutnya sebagai memori fotografis, yaitu kemampuan seseorang yang mampu meregistrasi secara detil apa yang dilihatnya, dan menyimpannya dalam memorinya. Kedua kelompok Gifted visuo-spatial Learner dan autisme dengan IQ tinggi (Asperger) atau beberapa autisme klasik mempunyai kesamaan yaitu antara lain mempunyai kemampuan ini, namun terdapat beberapa perbedaan jika dilihat pada hasil karya gambar-gambar yang dihasilkan kedua kelompok tersebut. Dalam berbagai bukunya, Peter Vermuelen banyak mengkritik kekeliruan kesimpulan yang hanya melihat dari sisi kemampuan fotografis tersebut. Misalnya van Gogh atau Picasso seorang pelukis berbakat luar biasa yang kreatif sering diberitakan sebagai penyandang autisme. Atau sebaliknya Nadia seorang autis savant yang idiot namun mempunyai kemampuan memori fotografis dan mampu menuangkan dalam bentuk lukisan sekalipun terfiksasi pada figur kuda namun mempunyai kualitas yang sangat baik, oleh Howard Gardner (psikolog Amerika yang terkenal dengan konsep Multiple Intelligence yang di pasaran menimbulkan terjadinya miskonsepsi apa yang disebut dengan anak gifted dan membanjirnya konsep anak bertalenta) disebutnya sebagai the island of giftedness dan menyebut Nadia sebagai anak berbakat jenius, yang kemudian menimbulkan miskonsepsi bahwa seabnormalnya seseorang ia mempunyai bakat jenius. Kesimpulan ini menurut Vermuelen adalah kesimpulan yang keliru, karena pada gambar tersebut harus lagi dilihat beberapa aspek yang membedakan antara karya gambar seorang penyandang autis dan non-autis.

Di bawah ini identifikasi beberapa sisi kuat dan sisi lemah anak-anak Gifted Visuo-Spatial Learner menurut Linda Silverman (1998):

SI KUAT

SISI LEMAH

Sangat menyukai kompleksitas

Lemah dalam memori auditory, tidak mampu meningat tiga langkah instruksi

System thinker

Mengalami kesulitan dalam mengingat-ingat fakta (menghapal); kesulitan dalam subjek yang memanfaatkan hapalan misalnya pelajaran biologi, bahasa asing

Kemampuan abstraksi tinggi

Kesulitan dengan materi yang mudah

Menyukai puzzel yang sulit

Kesulitan dalam kalkulasi

Tajam dalam memori visual

Kesulitan dalam mempelajari phonics

Kreatif, imajinatif

Kesulitan dalam spelling

Mempunyai humor yang baik

Kesulitan menemukan kata-kata

Lebih baik dalam hal matematika analisis daripada komputasi

Mempunyai performa yang buruk atau tidak selalu dalam timed tests

Lebih baik dalam reading comprehension daripada decoding

Mengalami kesulitan dalam mathematical facts

Lebih baik dalam geometeri daripada aljabar

Tidak punya perhatian die kelas, dan mudah mengacau

Lebih baik dalam ilmu fisika daripada kimia

Tidak terorganisasi, dan melupakan hal-hal yang detil

Sangat tertarik pada komputer, terutama program grafis

Membenci drill dan pengulangan

Sangat senang menonton televisi

Lupa pada pekerjaan rumah dan tugas-tugas sekolah

Menyukai musik

Memasukkan tugas belakangan, pekerjaannya jorok, dan kualitasnya jelek

Tukang melamun – kaya akan fantasi

Tulisan tangan jelek dan sulit dibaca

Seperti orang bodoh

Impulsive, cenderung bereaksi dahulu dan berfikir kemudian