Updates from July, 2008 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • yudhaarga 2:35 am on July 30, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 15) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    AUTISME ATAU GIFTED ?

    Peter Vermuelen, yang banyak menulis buku dan artikel serta melakukan penelitian tentang autisme terutama autisme high function dan Asperger, dalam karya-karyanya itu ia selalu mengkritik berbagai kesalahan diagnosa yang diberikan pada anak-anak autisme. Ia menggambarkan diantara anak-anak bimbingannya itu banyak yang mendapatkan berbagai diagnosa yang berganti-ganti dari berbagai diagnotician yang berbeda. Hal ini disebabkan karena para diagnotician melihat seorang anak hanya dari sisi ilmu yang menjadi spesialisasinya saja. Sehingga tidak heran jika seorang anak autisme bisa terdeteksi sebagai anak gifted, atau anak bergangguan perilaku, atau mental. Terlebih anak autisme yang mempunyai IQ tinggi, yaitu anak-anak Asperger, dimana kecerdasannya itu dapat digunakannya untuk menutupi kekurangannya. Anak-anak Asperger ini umumnya saat kecilnya disangka anak-anak gifted atau anak cerdas. Namun lambat laun saat memasuki sekolah dasar, kesulitan mulai terasa, yaitu sulitnya membangun relasi yang baik dengan teman sebaya, kesulitan dalam fantasi, imajinasi, dan kreativitas, serta mempunyai bidang minatan yang sangat terbatas. Umumnya mereka terdiagnosa sebagai autisme Asperger sangat terlambat, karena mereka mempunyai perkembangan bahasa dan bicara yang justru sangat baik. Karena itu Vermuelen menyebut individu ini sebagai: “Als autisme niet op autisme lijk” atau “Jika autisme tidak seperti autisme” (Vermuelen, 1999).

    Sebaliknya pengalaman yang banyak terjadi pada anak-anak anggota kami di Indonesia adalah justru anak-anak ini anak terlambat bicara, saat ia masih balita selalu menerima diagnosa autisme ringan, autisme agak berat, atau ASD, dan saat ia sudah bersekolah, mempunyai prestasi di sekolah, atau terlihat pandai walau tidak berprestasi, dokter akan mengatakan: sekarang sudah menjadi Asperger.

    Diantara anak-anak ini saat usia sangat dini, dua atau tiga tahun, sudah bisa menulis, membaca, dan menggambar, karena ia terlambat bicara dan sudah terlihat pandai, maka ia langsung menerima diagnosa asperger.

    Dalam suatu diskusi dengan para orang tua di Surabaya Juli 2003, seorang ibu menceritakan tentang anaknya, bahwa anaknya telah duduk di kelas lima sekolah dasar, usia 10 tahun, berprestasi di semua mata ajaran. Terlambat bicara, dan saat ini sikapnya di sekolah menarik diri tetapi dirasa tidak mempunyai masalah perilaku. Sejak usia 2 tahun mendapatkan diagnosa Aspeger. Saat duduk di kelas 5 itu, karena perilakunya menarik diri dengan diagnosa Asperger, atas anjuran fihak profesional dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan darah, rambut, dan urine, serta upaya detoksifikasi.

    Pengalaman yang dilalui oleh kelompok kami adalah anak-anaknya sangat menyukai televisi dan mobil beserta rodanya yang dapat diputar yang baginya sangat menawan hati. Karena anak-anak ini awalnya mendapat diagnosa ASD, maka kedua kegiatan ini jelas harus disingkirkan, dengan alasan merupakan kegiatan yang terfiksasi sebagai ciri autisme. Banyak dari para orang tua menyembunyikan berbagai mainan yang dapat diputar-putar termasuk mobilan beroda. Berkebalikan dengan strategi stimulasi anak berbakat, kesenangan seperti ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kreativitas dan fantasi. Televisi, video, komputer dengan CD ROM interaktif dapat digunakan untuk memberinya pelajaran , serta meningkatkan kreativitas dengan membuat disain kota yang bisa diliwati dengan mobil. Anak-anak ini senang sekali melakukan uji coba, melakukan kegiatan berulang-ulang sebagai upaya trial and error, namun sering terinterpretasi sebagai perilaku repetitif autisme dan harus disingkirkan.

    Kraijer (2003) dalam penelitiannya memberikan kesimpulan bahwa semakin rendah inteligensia penyandang autisme, menunjukkan perilaku yang lebih repetitif, dan perilaku repetitif ini berlangsung secara terus menerus, tanpa tujuan, serta disandang seumur hidup.

    Laporan dari Young dkk (2003) bahwa sebetulnya pada autisme klasik, gejala autisme sudah dapat diketahui sejak usia 7 bulan, namun para orang tua baru menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan perkembangan autisme saat berusia agak lebih besar yaitu menyadari anaknya mengalami perkembangan bahasa yang terlambat.

    Banyak diantara anggota kami menyadari bahwa anak-anaknya mengalami kemunduran bicara. Saat usia satu tahun anaknya telah mampu mengucapkan beberapa kata, namun setelah di atas usia dua tahun dirasa tidak ada kemajuan, bahkan muncullah bahasa planet dan sulit dimengerti. Keadaan inilah yang sering melibatkan anaknya pada diagnosa autisme, dengan asumsi adanya regresi perkembangan yang biasa terjadi pada anak-anak autisme.

    Mönks dalam bukunya Ontwikkelings Psychologie (1999), menjelaskan bahwa pada anak-anak diusia 18 bulan seorang anak akan mulai melakukan eksplorasi dan observasi (pencanderaan melalui mata).

    Pada anak-anak visual learner ini terjadi intensitas pencanderaan yang tinggi (skala besar), dan terjadi gangguan pada processing informasi melalui telinga. Gangguan fungsi terjadi pada bagian sistem syaraf pusat yaitu dibagian Premotor Area (PMA).

    Defisit dalam kreativitas menyebabkan individu autis mengalami gangguan dalam fleksibilitas, karena kreativitas akan pula menghasilkan kemampuan fleksibilitas, kemampuan analisis, dan berbahasa simbolik. Sifatnya kemudian hanya meregistrasi (dalam memori visual atau auditif) apa yang didengar, atau dilihatnya. Kemampuan autisme seperti ini sering kita baca sebagai kemampuan yang peace by peace dalam melihat berbagai fenomena di dunia. Defisit dalam kemampuan simbolik (komunikasi nonverbal) akan membawanya kesulitan dalam hubungan sosial, membaca gelagat, deficit dalam imajinasi dan terfiksasi dalam bidang minatan. Ia akan melihat dunia dengan caranya, yaitu sangat harafiah (Vermuelen, 1999, 2002, 2004).

    Diagnosa yang sering tertukar satu dengan lainnya, adalah antara autis savant, asperger, dan gifted.

    Continue…

    Advertisements
     
  • yudhaarga 2:32 am on July 27, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 14) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    Baum (1990) membagi anak-anak gifted/LD ini menjadi tiga kelompok, yaitu:

    1) anak-anak yang teridentifikasi sebagai anak gifted tetapi juga mempunyai LD

    2) anak-anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak gifted karena tertutupi oleh prestasinya yang sedang-sedang saja

    3) anak yang teridentifikasi sebagai anak dengan LD tetapi juga sebagai anak gifted

    Selanjutnya Baum (1990) menjelaskan beberapa ciri anak-anak gifted/LD:

    1) Kelompok gifted yang mempunyai LD.

    Kelompok ini mudah dikenali karena mempunyai prestasi yang baik dan skor IQ total yang tinggi. Saat kelompok ini menanjak besar deskrepansi antara performa yang diharapkan dan yang aktual akan semakin melebar. Anak-anak ini dapat mempesona gurunya karena mempunyai kemampuan verbal yang sangat baik, sedang ejaan dan karya tulisnya berkebalikan dengan image-nya. Kadang ia sangat pelupa, jorok, dan tidak terorganisasi. Di sekolah lanjutan dimana lebih banyak dituntut pengerjaan tugas-tugas dengan menulis yang panjang, penggunaan bahasa yang lebih luas, membaca mandiri, mereka segera akan mendapatkan kesulitan. Kesuksesan akan dicapai dengan kerja yang sangat keras. Jika dibutuhkan usaha yang lebih keras, ia akan tidak tahu lagi bagaimana harus mengerjakan hal hal yang mudah

    2) Unidentified student

    Anak-anak ini sering tidak naik kelas. Kemampuan intelektualnya hanya hilang begitu saja karena ia harus mengkompensasi kelemahannya, karena masalah gangguan belajarnya tidak teridentifikasi. Dengan kata lain, gangguan belajarnya menutupi kemampuannya, sedang kemampuannya untuk menutupi kelemahannya. Anak-anak ini justru sulit diidentifikasi karena perilakunya baik, tidak menuntut perhatian guru.

    3) Teridentifikasi sebagai anak LD tetapi memiliki giftedness

    Anak-anak ini teridentifikasi karena ia tidak mampu mengerjakan tugas, bukan karena ia mampu menunjukkan talentanya. Kelompok ini merupakan anak yang mempunyai risiko salah terinterpretasi, karena guru dan orang tua lebih terfokus pada permasalahannya. Yang menarik, anak-anak ini mempunyai tingkat pretasi yang tinggi di rumah, kemampuan intelektual dan kreativitasnya disalurkannya ke hobbynya. Karena anak-anak ini sangat cerdas dan sensitive, maka mereka semakin sadar akan kesulitannya dalam belajar. Selanjutnya, mereka sering menggeneralisasi kegagalan akademiknya kepada seluruh aspek. Perasaan pesimisnya ditutupinya denga perasaan positif yang didapatkannya di rumah. Di sekolah sering dianggap sebagai pengacau, tidak menyelesaikan tugas, ‘ngeloyor’, pelamun, atau mengeluh sakit kepala dan sakit perut; mereka juga mudah frustrasi dan menggunakan kreativitasnya untuk menghindari tugas.

    continue….

     
  • yudhaarga 2:29 am on July 24, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 13) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    GIFTED WITH LEARNING DISABILITIES (Gifted/LD)

    Istilah Learning Disabilities (gangguan belajar) hanya diberikan pada anak-anak yang mempunyai inteligensia normal sampai tinggi, untuk anak-anak dengan inteligensia rendah disebut multihandicap (Crealock & Kronick, 1993). Istilah ini digunakan bagi anak-anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau berhitung (diskalkulia). Namun bentuk, seberapa tingkat keparahan, batasan, dan etiologinya, berbagai gangguan ikutan lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan belajar, hal ini semua masih menjadi bahan perdebatan, sehingga sampai saat ini prevalensi yang dilaporkan untuk berbagai negara bagian di Amerika, ataupun di berbagai negara, mempunyai angka dengan range sangat besar. Ada yang melaporkan 3 persen ada pula yang melaporkan 20 persen, bahkan 50 persen (Lloyd dkk, 1997). Hal ini dapat dimengerti karena gangguan LD juga akan menyangkut gangguan kemampuan bahasa yang dipengaruhi oleh sistem tata bahasa suatu kelompok atau bangsa. Dengan begitu alat ukur untuk melakukan tes apakah seorang anak menyandang gangguan belajar untuk suatu negara, tidak bisa menggunakan alat ukur yang dipakai oleh negara lain. Disamping itu masih terdapat berbagai pendapat, kapan usia seorang anak dapat dikatakan sebagai anak penyandang LD. Namun banyak yang sepakat bahwa seorang anak dapat dikatakan menyandang LD jika ia sudah berusia masuk sekolah dasar dan terjadi adanya deskrepansi yang siknifikan antara kinerja dan potensi inteligensia. Crealock & Kroniek (1993) menjelaskan bahwa kondisi LD ini bukan merupakan kondisi tidak normal, tetapi merupakan kondisi seseorang yang hampir normal, karena terganggunya satu atau lebih area inteligensia yang menyebabkan terganggunya fungsi belajar seseorang.

    Untuk mengetahui seorang anak menyandang LD diperlukan berbagai tes, namun sayangnya di Indonesia ilmu anak-anak dengan gangguan belajar ini belum populer, begitu juga alat ukurnya belum ada, untuk mengetahui apakah seorang anak penyandang LD, bagaimana bentuk, dan keparahan gangguan, yang kesemuanya diperlukan untuk menentukan strategi menanganinya.

    Terlebih lagi, pada anak-anak gifted ini sangat sulit diketahui jika ia menyandang gangguan ini, karena inteligensianya dapat digunakannya untuk menutupi kekurangannya. Ia mampu membangun strategi sendiri, sehingga gangguannya sulit dikenali, dan guru sering tidak menyadari bahwa muridnya adalah anak gifted yang menyandang gangguan belajar (Alja de Bruin-de Boer, 2002).

    Pengalaman dari kelompok kami, anak-anak ini mengalami kesulitan membaca di awal sekolah dasar saat ia harus belajar membaca mengeja, namun apabila saat ini bisa dilalui dengan baik, dengan bimbingan menggunakan metoda visual, kesulitan segera dapat diatasi. Namun tidak bagi anggota baru yang anak-anaknya terdeteksi bahwa ia kemungkinan mempunyai keberbakatan setelah berusia di atas 8 tahun, kesulitan ini semakin sulit diatasi karena telah membawa akibat pada masalah lainnya, seperti misalnya berkembangnya konsep diri negatip, faalangst negatip (merasa tidak bisa yang sebenarnya bisa), perkembangan motorik halus yang tidak terarah dimana kordinasi tangan dan jari-jari tidak baik, lateralisasi tidak baik, tidak jelas tangan kiri atau kanan yang kuat, terjadi gangguan pemrograman motorik, tidak terlatih melakukan abstraksi oral dan dalam bentuk tulisan, jatuh dalam pelajaran Agama, PKKn, dan bahasa, mempunyai angka yang jelek dalam pelajaran berhitung mekanis (hapalan), akhirnya dianggap tidak cerdas, tidak naik kelas, dan atau dikeluarkan dari sekolah. Dalam pelajaran berhitung analisis umumnya mendapatkan angka baik, namun tidak demikian dengan berhitung mekanis (hapalan), padahal sementara itu di kelas-kelas awal sekolah dasar anak-anak lebih banyak menerima pelajaran hapalan. Tulisan yang jelek, yang disebabkan karena lemahnya motorik halus, tidak tertangani dengan baik, namun dihukum menulis berlembar-lembar yang menyebabkan kefrustrasian,dan tertekan karena tidak tahan pada rutinitas.

    Anak-anak ini sering diberi istilah twice exceptional gifted (gifted dengan keistimewaan ganda) karena masalah giftedness saja sudah membawanya memiliki masalah tersendiri ditambah lagi masalah dalam gangguan belajar. Kadang kita juga menemui dengan istilah unidentified gifted students, sebab anak-anak ini seringkali bukan saja hanya menyandang masalah gangguan belajar, namun juga diikuti dengan masalah gangguan perilaku dan emosional turbulensi sehingga abilities yang dimilikinya tidak teridentifikasi.

    Berbagai literatur lama sering menjelaskan bahwa keadaan learning disabilities ini karena adanya deskrepansi yang besar antara verbal IQ dengan performal IQ ( di atas 10 point). Namun berbagai penelitian terakhir dapat diketahui bahwa keadaan ini belum tentu menyebabkan seseorang akan mengalami learning disablities

    Continue…

     
  • yudhaarga 2:29 am on July 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 12) 

    Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

    Hal-hal yang mungkin terjadi dalam tumbuh kembang (Nijenhuis, 2003)

    gangguan perkembangan bahasa dan bicara;

    gangguan belajar (learning disable) terutama pada pelajaran membaca, menulis, dan spelling;

    sekalipun anak-anak ini akan mempunyai inteligensia tinggi (anak ini akan sangat pandai) seringkali mempunyai prestasi yang jelek di sekolah;

    mengalami kesulitan dalam kurikulum klasik;

    mempunyai pemusatan perhatian yang rendah, cepat lelah dalam pelajaran yang menggunakan mondeling lama dan kompleks;

    ia merasa sangat lelah sepulang sekolah ;

    mudah beralih perhatian terhadap bunyian dan berbagai kejadian di sekitarnya ;

    pemahaman terhadap waktu sangat buruk berkembang : mengalami kesulitan mengulang secara kronologis urutan kejadian, dan mengulangi cerita suatu dongeng ;

    tak bisa turut bekerjasama dengan kelompok yang ribut, karenanya kemampuan sosialnya kurang baik berkembang ;

    Untuk identifikasi gifted visuo-spatial yang mengalami CAPD ini, Lesley Sword (2002) dari Gifted Center NSW Australia memberikan beberapa patokan, yaitu jika ditemukan tanda-tanda berikut di bawah ini. Tanda-tanda ini digunakan hanya untuk idetifikasi dan selanjutnya diperlukan pemeriksaan oleh psikolog yang mendalami psikologi anak gifted.

    1. WISC-III menunjukkan indikator :

    • adanya scater dari skor subtes IQ
    • umumnya skor IQ performal lebih tinggi daripada skor IQ verbal
    • umumnya mempunyai skor yang tinggi pada tes Block Design, Object Assemby dan Similarities

    2. Mempunyai riwayat : infeksi telinga, alergi, asma, eksim, tonsillitis, sinusitis hingga

    lima tahun pertama.

    1. Mempunyai riwayat conductive hearing loss di usia dini
    2. Tidak punya perhatian yang baik dan kacau
    3. Mempunyai kepekaan waktu yang kurang atau buruk dalam tes waktu.
    4. Mempunyai short term memory yang buruk tetapi mempunyai long term memory yang baik
    5. Sulit menyelesaikan tugas sekolah dan pekerjaan rumah.
    6. Tulisan tangan jelek atau sulit menulis tetap di atas garis, sulit memegang pinsil dengan baik terlalu kuat menekan atau terlalu halus saat menulis
    7. Mempunyai kemampuan mendengar yang jelek, kadang nampak seperti tuli
    8. Tidak mempertahankan kontak mata.
    9. Mempunyai kesulitan dalam spelling dan membaca
    10. Mempunyai kesulitan dalam perkalian dan komputasi
    11. Menyukai ide-ide yang kompleks, sering gagal dalam tugas yang mudah
    12. Bisa membaca dengan suara perlahan dan kesulitan membaca dengan suara keras.
    13. Tidak bisa duduk diam, mempunyai energy yang tak pernah habis, dan selalu gelisah.
    14. Sangat kreatif
    15. Mempunyai perasaan humor yang baik (kadang dengan cara yang berbeda)
    16. Secara emosional sangat sensitif
    17. Sangat sensitif terhadap kritik
    18. Secara fisik sangat sensitif misalnya terhadap suara dan kegaduhan, cahaya.
    19. Menyukai lego, puzzel, jigsaws, computer games, televisi, dan mengkreasi sesuatu
    20. Sangat tidak terorganisasi
    21. Menyukai seni/musik
    22. Mempunyai imajinasi yang hidup dan impian-impian

    Sangat ingat jalan-jalan walaupun hanya satu kali lewat.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel