GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya ? (part 13)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Karena saat ini saya sedang konsern masalah ini. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga bermanfaat.

GIFTED WITH LEARNING DISABILITIES (Gifted/LD)

Istilah Learning Disabilities (gangguan belajar) hanya diberikan pada anak-anak yang mempunyai inteligensia normal sampai tinggi, untuk anak-anak dengan inteligensia rendah disebut multihandicap (Crealock & Kronick, 1993). Istilah ini digunakan bagi anak-anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), atau berhitung (diskalkulia). Namun bentuk, seberapa tingkat keparahan, batasan, dan etiologinya, berbagai gangguan ikutan lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan belajar, hal ini semua masih menjadi bahan perdebatan, sehingga sampai saat ini prevalensi yang dilaporkan untuk berbagai negara bagian di Amerika, ataupun di berbagai negara, mempunyai angka dengan range sangat besar. Ada yang melaporkan 3 persen ada pula yang melaporkan 20 persen, bahkan 50 persen (Lloyd dkk, 1997). Hal ini dapat dimengerti karena gangguan LD juga akan menyangkut gangguan kemampuan bahasa yang dipengaruhi oleh sistem tata bahasa suatu kelompok atau bangsa. Dengan begitu alat ukur untuk melakukan tes apakah seorang anak menyandang gangguan belajar untuk suatu negara, tidak bisa menggunakan alat ukur yang dipakai oleh negara lain. Disamping itu masih terdapat berbagai pendapat, kapan usia seorang anak dapat dikatakan sebagai anak penyandang LD. Namun banyak yang sepakat bahwa seorang anak dapat dikatakan menyandang LD jika ia sudah berusia masuk sekolah dasar dan terjadi adanya deskrepansi yang siknifikan antara kinerja dan potensi inteligensia. Crealock & Kroniek (1993) menjelaskan bahwa kondisi LD ini bukan merupakan kondisi tidak normal, tetapi merupakan kondisi seseorang yang hampir normal, karena terganggunya satu atau lebih area inteligensia yang menyebabkan terganggunya fungsi belajar seseorang.

Untuk mengetahui seorang anak menyandang LD diperlukan berbagai tes, namun sayangnya di Indonesia ilmu anak-anak dengan gangguan belajar ini belum populer, begitu juga alat ukurnya belum ada, untuk mengetahui apakah seorang anak penyandang LD, bagaimana bentuk, dan keparahan gangguan, yang kesemuanya diperlukan untuk menentukan strategi menanganinya.

Terlebih lagi, pada anak-anak gifted ini sangat sulit diketahui jika ia menyandang gangguan ini, karena inteligensianya dapat digunakannya untuk menutupi kekurangannya. Ia mampu membangun strategi sendiri, sehingga gangguannya sulit dikenali, dan guru sering tidak menyadari bahwa muridnya adalah anak gifted yang menyandang gangguan belajar (Alja de Bruin-de Boer, 2002).

Pengalaman dari kelompok kami, anak-anak ini mengalami kesulitan membaca di awal sekolah dasar saat ia harus belajar membaca mengeja, namun apabila saat ini bisa dilalui dengan baik, dengan bimbingan menggunakan metoda visual, kesulitan segera dapat diatasi. Namun tidak bagi anggota baru yang anak-anaknya terdeteksi bahwa ia kemungkinan mempunyai keberbakatan setelah berusia di atas 8 tahun, kesulitan ini semakin sulit diatasi karena telah membawa akibat pada masalah lainnya, seperti misalnya berkembangnya konsep diri negatip, faalangst negatip (merasa tidak bisa yang sebenarnya bisa), perkembangan motorik halus yang tidak terarah dimana kordinasi tangan dan jari-jari tidak baik, lateralisasi tidak baik, tidak jelas tangan kiri atau kanan yang kuat, terjadi gangguan pemrograman motorik, tidak terlatih melakukan abstraksi oral dan dalam bentuk tulisan, jatuh dalam pelajaran Agama, PKKn, dan bahasa, mempunyai angka yang jelek dalam pelajaran berhitung mekanis (hapalan), akhirnya dianggap tidak cerdas, tidak naik kelas, dan atau dikeluarkan dari sekolah. Dalam pelajaran berhitung analisis umumnya mendapatkan angka baik, namun tidak demikian dengan berhitung mekanis (hapalan), padahal sementara itu di kelas-kelas awal sekolah dasar anak-anak lebih banyak menerima pelajaran hapalan. Tulisan yang jelek, yang disebabkan karena lemahnya motorik halus, tidak tertangani dengan baik, namun dihukum menulis berlembar-lembar yang menyebabkan kefrustrasian,dan tertekan karena tidak tahan pada rutinitas.

Anak-anak ini sering diberi istilah twice exceptional gifted (gifted dengan keistimewaan ganda) karena masalah giftedness saja sudah membawanya memiliki masalah tersendiri ditambah lagi masalah dalam gangguan belajar. Kadang kita juga menemui dengan istilah unidentified gifted students, sebab anak-anak ini seringkali bukan saja hanya menyandang masalah gangguan belajar, namun juga diikuti dengan masalah gangguan perilaku dan emosional turbulensi sehingga abilities yang dimilikinya tidak teridentifikasi.

Berbagai literatur lama sering menjelaskan bahwa keadaan learning disabilities ini karena adanya deskrepansi yang besar antara verbal IQ dengan performal IQ ( di atas 10 point). Namun berbagai penelitian terakhir dapat diketahui bahwa keadaan ini belum tentu menyebabkan seseorang akan mengalami learning disablities

Continue…