GIFTED atau AUTISME, Bagaimana membedakannya (part 17)

Tulisan ini merupakan Tulisan Ibu Julia Van Tiel yang saya kutip dari Blognya. Semoga bermanfaat.

ASPERGER

Asperger adalah bentuk autisme dalam eselon yang paling tinggi. Umumnya terdeteksi sangat terlambat, setelah agak besar di sekolah karena banyak masalah dalam pelajaran, bahkan sering juga terdeteksi saat sudah mempunyai pasangan, dimana terjadi relasi yang sulit antara suami istri dalam relasi seksual, dimana para asperger ini dalam relasi seksual kurang menampilkan relasi yang hangat dan hubungan seksual berlangsung sangat “mekanistis” (Emmen, 2003). Istilah Asperger digunakan untuk menghormati dokter anak Hans Asperger di tahun 1940-an  dari Austria yang melaporkan pasien-pasiennya yang pandai tetapi psychopath yang disebutnya sebagai anak-anak autis.

Akhir-akhir ini mulai banyak lagi dilakukan penelitian tentang Asperger ini, bukan saja karena problemnya semakin jelas tetapi juga  anak-anak normal yang mempunyai syndrom seperti Asperger, perbedaannya kurang jelas (Hupkens, 2002).

Peter Vermuelen membandingkan dua kelompok anak-anak autisme  yang terdeteksi  dini dan terdeteksi terlambat dengan inteligensia normal sampai tinggi.

Pada anak-anak yang cepat terdiagnosa menunjukkan mempunyai inteligensia yang lebih rendah daripada yang terdeteksi lambat. Di usia setengah tahun umumnya orang tuanya telah melihat bahwa ada sesuatu yang tak beres pada perkembangan anak yaitu perkembangannya sangat lambat. Di usia saat mana anak-anak sudah mulai berbicara namun anak-anak mereka tidak, hal inilah yang menyebabkan lebih cepatnya deteksi. Sementara pada anak-anak yang lebih lambat terdeteksi sebagai penyandang autisme umumnya para orang tua pergi mencari pengobatan karena adanya gangguan fisik terutama infeksi telinga. Pada awal-awal sekolah anak-anak ini juga dapat mengikuti sekolah dengan baik. Namun semakin anak-anak ini besar terjadi berbagai masalah di sekolah, peledakan, agresi, dan gangguan kontak sosial. Saat-saat inilah baru diketahui bahwa anak-anak ini adalah penyandang autisme, karena gejala autisme yang ditampilkannya sangat samar-samar.

Profil tes psikologi  dilakukan oleh Centrum voor Begaafheids Onderzoek Universitas Nijmegen Belanda terhadap Johan saat berusia 5 tahun, dengan diagnosa Gifted, sekalipun mempunyai ada gejala autisme namun bukan berarti bahwa ia adalah penyandang autisme karena dalam hal ini gangguan perkembangan sosial emosionalnya disebabkan karena ketertinggalan perkembangan bahasa dan bicara. Dalam profil tersebut nampak bahwa skor performal IQ lebih tinggi daripada skor IQ verbal. Jika dibandingkan dengan dua profil autisme di atas maka sekalipun sama-sama adanya deskrepansi pada skor verbal IQ dan performal IQ (v/P)  namun dalam berbagai subtes performal terdapat perbedaan yang menyolok. Dalam tes ini ia memperoleh skor di atas rata-rata usia sebayanya, dan sangat tinggi  dalam subtes GF (geometrische figuran) yang merupakan tes untuk melihat kemampuan motorik halus dan kemampuan observasi, subtes BP (blokpatronen) untuk melihat kemampuan analitik-sintetik. Dalam tes BP ini ia menggunakan strategi mula-mula melihat baru dikerjakan. Disamping subtes di atas ia juga memperoleh skor tinggi pada OT (onvolledige tekeningen) yaitu untuk melihat  part-whole reasoning. Dalam tes verbal ia menunjukkan kemampuan O (overeenkomsten) atau similarities  lebih tinggi daripada subtes lainnya dan sesuai dengan usianya. Subtes ini  menunjukkan bahwa ia mempunyai kemampuan berbahasa secara pasif.

Continue….