Updates from June, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • yudhaarga 11:28 am on June 18, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Tantangan berikutnya : Trainer make Trainers by Yudha Argapratama   

    Tantangan berikutnya : Trainer make Trainers by Yudha Argapratama 

    Sebutlah namanya Sudarto, biasa dipanggil Pak Darto, usia 36 tahun, pendidikan SMA. Sehari –hari bekerja di Bagian Mesin Pembakaran di perusahaan tempat saya bekerja. Memulai karir dari operator, dan setelah sekian tahun beliau akhirnya menjadi Kepala Regu. Tanpa terasa sudah 16 tahun bekerja di perusahaan.   Punya usaha sambilan warung bakso di rumahnya. Aktivitas lain, menjadi Ketua Serikat Pekerja di Perusahaan. Sudah menjabat 3 periode.

    Sebagai HRD yang baru bergabung di perusahaan saat ini, tugas saya adalah mencari kandidat – kandidat pimpinan menengah di  perusahaan. Organisasi yang sedang berkembang, perlu  banyak pimpinan  yang bisa mengisi beberapa posisi yang kosong di level menengah. Dan sebaiknya direkrut dari dalam, bukan dari luar perusahaan. Jadi Pak Sudarto termasuk yang saya pantau potensi dan performancenya selama beberapa bulan ini.  Dan saya temukan beliau potensial untuk mengisi jabatan Wakil Kepala Seksi yang yang dibutuhkan perusahaan.

    Saya ingat sekali obrolan saya dengan beliau dua bulan  yang lalu. Saat itu perusahaan sedang membuka lowongan internal untuk Promosi menjadi Wakil Kepala Seksi di beberapa bagian. Beliau sepertinya tenang-tenang saja. Kayak tidak berminat. Apa yang saya obrolkan ?

    “Pak Darto, kok ga ikut ngelamar untuk promosi Wakasi ? saya lihat bapak punya potensi lho “

    Beliau menjawab, “ Wah ngga lah pak, saya kan ketua Serikat Pekerja. Saya ga enak sama-sama teman – teman yang lain. “

    “Memangnya masa jabatan Ketua SP sampai kapan Pak?”

    “Sampai Juli 2013.”

    “Wah, sebentar lagi dong. Kalo gitu bapak saya ajukan promosinya setelah lengser aja ya? Kan kalau saat itu sudah ga masalah dong. Ga mungkin dikomplain teman-teman.”

    “Ngga lah Pak. Saya sudah memilih jalan hidup saya untuk berkontribusi terhadap perjuangan kesejahteraan Pekerja. Walaupun nanti sudah tidak menjabat lagi. Saya cukup jadi kepala regu saja.”

    Saya terdiam. Jarang saya temui orang yang bisa konsisten seperti ini. Kebanyakan yang saya temui, orang berjuang pada saat dia merasa kecewa, terbuang, atau tidak punya pilihan. Tetapi pada saat ada kesempatan untuk dapat tambahan (entah promosi atau naik gaji), dia lupa pada perjuangannya. Bapak yang satu ini beda.

    Akhirnya saya bicara “Tapi bapak tetap mau kontribusi ke perusahaan kan?”

    “Ya iyalah Pak. Kan saya cari makan di perusahaan ini. Masa saya ga mau.”

    Saya bilang  “Ok kalau begitu, gimana kalau bapak jadi Trainer ?”

    “ Trainer ? Trainer apaan pak? Emangnya saya bisa, lagipula saya ga pinter  ngomong di depan orang”

    “ Ya trainer buat para operator. Saya sudah jadwalin programnya. Teman-teman kita butuh training tentang etos kerja. Dan saya pikir bapak cocok untuk materi itu. Kan bapak udah biasa bicara di depan pekerja”

    “ Nanti modulnya gimana Pak? Trus cara ngasih trainingnya gimana pak?”

    “Tenang aja, nanti kita belajar bareng. Ada beberapa teman yang juga saya minta bantuannya untuk jadi trainer. Saya sudah jadwalkan untuk sharing tentang training delivery”

    Akhirnya beliau mau. Dan setelah saya sharing dengan beliau dan teman-teman tentang training  delivery, beliau dijadwalkan untuk memberikan training kepada operator untuk materi etos kerja.

    Dan minggu lalu, dua hari sebelum saya berangkat ke Trainers Bootcamp, Pak Sudarto mendeliver materi training pertamanya. Dan hasilnya, menurut saya luar biasa. Penyampaian beliau sangat membumi. Peserta  yang levelnya operator sampai terpukau dengan penampilan beliau. Saya yang duduk di belakang mengamati, sampai tidak bisa berkata apa-apa. Luar biasa Potensi seseorang saat kita bisa menemukan dan mengasahnya. Dan ini baru awal fase hidup beliau menjadi Trainer.

    Saat saya membuat tulisan ini setelah Trainers Bootcamp, saya teringat Pak Sudarto. Ada rasa puas dan bangga di hati. Dan saya memahami, mungkin  inilah yang dirasakan Pak Jamil Azzaini dan kawan-kawan. Kenapa beliau-beliau dengan rela berbagi ilmunya untuk mencetak trainer-trainer handal. Rasa bahagia yang tidak tergantikan dengan uang sekalipun. Saat Trainer bisa mencetak Trainer yang bahkan lebih hebat dari dirinya, itulah pencapaian tertinggi seorang Trainer. Trainer make Trainers.

    Dan saya temukan juga, jangan tunggu jadi Trainer Hebat untuk membagi kemampuan delivery training yang anda punya. Justru anda akan jadi Trainer Hebat, setelah anda membaginya.

    Jadi, Kalau Anda seorang Trainer,  apakah Anda siap dengan tantangan berikutnya :  Trainer make Trainers ?

     

    Catatan :

    Setelah saya ikut Trainers Bootcamp, saya punya pe-er untuk sharing lagi tentang training delivery kepada Pak Darto dan kawan-kawan. Karena yang saya bagi sebelumnya, masih banyak yang kurang bahkan ada beberapa yang perlu diperbaiki. Lets Celebrate knowledge & Keep Never Ending Learning…

    Tulisan ini pernah saya posting di : http://www.trainerlaris.com

    Advertisements
     
  • yudhaarga 1:58 am on June 12, 2012 Permalink | Reply  

    Selalu ada pembelajaran 

    Selalu ada pembelajaran baru setiap. Hari ini belajar tentang menanamkan belief dan values. Jadi kayak perang informasi. Keep the spirit…

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • yudhaarga 11:26 am on June 11, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Narsis Tanpa Kaca by Yudha Argapratama   

    Narsis Tanpa Kaca by Yudha Argapratama 

    Ada dua hal menarik yang saya pelajari dari kelas Trainers Bootcamp yang saya ikuti kemarin. Dua hal ini merubah mindset saya selama ini tentang perilaku Seorang Trainer dalam men-deliver training kepada audiensnya. Mindset yang waktu saya pahami, seolah–olah kepala saya seperti dibenturkan ke tembok yang keras, karena selama ini ternyata saya belum mempraktekkannya.
    Pasti anda penasaran, apaan sih ?
    So Kita bahas yuk …
    Pertama, jadi Trainer itu harus Narsis
    Ini termasuk kalimat yang cukup banyak saya dengar dalam kegiatan Trainers Bootcamp. Entah dari teman sesama peserta, fasilitator, bahkan dari Pak Jamil Azzaini sendiri menyampaikan hal tersebut. Mungkin banyak dari kita yang merasa, kok gitu ya? Bukannya jadi Trainer itu harus rendah hati, baik hati dan tidak sombong ? Bukannya jadi trainer itu harus ja-im (jaga image)?
    Tapi itulah yang saya dapat. Semua aktivitas dan latihan yang dilakukan, semua mengarahkan kita para Trainer untuk jadi lebih Narsis. Bayangkan, kita harus latihan olah tubuh yang membuat tubuh kita lepas dari belenggu pikiran. Harus mengekspresikan seliar-liarnya gerakan tubuh kita. Kita juga harus olah vokal kita dengan sebaik mungkin. Kapan harus teriak, kapan harus berbisik. Kapan harus cepat, kapan harus lambat. Kapan harus jeda, kapan harus bicara lagi. Kita juga harus latihan gimana menarik perhatian audiens. Bahkan dengan segala cara. Kalo perlu, kita harus berani tampil memalukan di depan peserta.
    Kedua, Kalau Anda Narsis, Narsislah untuk memuaskan Audiens Anda
    Whats ! apa lagi ini. Bukannya Narsis itu untuk diri sendiri. Bukannya kita harus tampil sebaik mungkin untuk memuaskan diri kita ? Makanya, inilah yang membuat saya harus membenturkan kepala saya berkali-kali ke tembok yang keras (lebai banget kan? Narsis lagi kan? Kayaknya udah keserap ilmunya. Hehehe..). (More …)

     
  • yudhaarga 10:24 pm on June 10, 2012 Permalink | Reply  

    Let’s start Senin pagi dengan penuh semangat..

     
  • yudhaarga 12:10 pm on June 10, 2012 Permalink | Reply  

    Come on. Mulai mulai nulis lagi….!!!

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel